Pembalap asal Turki, Toprak Razgatlioglu, mengakui keunggulan Fabio Quartararo setelah menjalani akhir pekan yang penuh tantangan pada seri MotoGP Brasil 2026. Ia kembali gagal meraih poin penuh usai finis di luar posisi 15 besar dalam balapan yang berlangsung di Sirkuit Goiania.
Seri Brasil menjadi ujian berat bagi Razgatlioglu yang masih dalam proses adaptasi di kelas utama MotoGP, setelah sebelumnya berkompetisi di World Superbike (WSBK). Ini adalah balapan kedua baginya di ajang balap motor paling bergengsi tersebut.
Awal Menjanjikan, Berakhir Mengecewakan
Razgatlioglu sebenarnya menunjukkan progres signifikan pada awal akhir pekan di Goiania. Setelah debutnya di Buriram dengan finis ke-17, ia tampil mengejutkan dengan langsung menembus sesi kualifikasi kedua (Q2) di Brasil. Bahkan, ia sempat mencatatkan waktu tercepat ketiga dalam sesi latihan bebas Jumat, sebuah hasil yang di luar ekspektasi banyak pihak.
Pembalap yang kini memperkuat tim satelit Yamaha, Prima Pramac Racing, mengaku merasa sangat nyaman dengan motornya pada sesi tersebut. Namun, performanya anjlok drastis memasuki hari Sabtu dan Minggu. Ia hanya mampu start dari posisi ke-12, sebelum terpuruk di Sprint Race dengan finis ke-18, tepat di depan rekan setimnya, Jack Miller.
Masalah berlanjut pada balapan utama hari Minggu. Razgatlioglu kembali kehilangan banyak posisi dan harus puas finis di urutan ke-17, sehingga gagal mencetak poin untuk dua seri beruntun di awal musimnya.
Kesulitan Grip dan Akselerasi Jadi Masalah Utama
Dalam evaluasinya, Razgatlioglu menyoroti masalah utama pada grip ban belakang dan akselerasi motor Yamaha YZR-M1 yang ia tunggangi. Menurutnya, perbedaan performa paling terasa saat membuka gas dibandingkan para rival, termasuk Fabio Quartararo.
“Saat saya berada di belakang Fabio, saya sangat kuat di hampir semua tikungan. Bahkan bisa mendekat di beberapa bagian. Tapi begitu membuka throttle, dia selalu punya keunggulan besar,” ujar Razgatlioglu, menjelaskan perbandingan performanya dengan Quartararo.
Ia juga mengungkapkan bahwa ia mengalami wheelspin berlebih, yang membuat akselerasi menjadi tidak optimal. Razgatlioglu menduga Quartararo memiliki pengaturan motor atau manajemen ban yang lebih baik, yang memberinya keuntungan signifikan di trek lurus.
Performa Yamaha Masih Inkonsisten
Secara keseluruhan, performa Yamaha di Brasil juga belum menunjukkan konsistensi. Fabio Quartararo sempat tampil impresif saat kualifikasi dengan menempatkan motor YZR-M1 di posisi keempat. Namun, pada balapan utama, juara dunia MotoGP 2021 itu harus puas finis di posisi ke-16, hanya satu tingkat di depan Razgatlioglu.
Sementara itu, Alex Rins menjadi satu-satunya pembalap Yamaha yang berhasil meraih poin dengan finis di posisi ke-14. Hasil ini menunjukkan bahwa tim Garpu Tala masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan daya saing motor mereka.
Target Besar: Kalahkan Quartararo pada 2026
Meski masih kesulitan, ambisi besar tetap dipasang kubu Razgatlioglu. Manajemennya menargetkan sang pembalap mampu mengungguli Quartararo paling lambat pada musim 2026. Melihat hasil di Brasil, target tersebut dinilai cukup realistis.
Razgatlioglu hanya terpaut kurang dari empat detik dari Quartararo saat finis, menunjukkan jarak performa yang tidak terlalu jauh. Namun, pekerjaan rumah besar masih menanti. Razgatlioglu perlu menemukan keseimbangan optimal pada motor Yamaha agar bisa bersaing secara konsisten di barisan depan.
Dengan proses adaptasi yang masih berlangsung, banyak penggemar MotoGP meyakini pembalap Turki tersebut memiliki potensi untuk menjadi penantang serius, bahkan berpeluang mengungguli Quartararo di masa mendatang jika perkembangan performanya terus berlanjut.
