M. David Ainul Ridho (33), seorang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pakaian wanita di Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menepis pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut masyarakat desa tidak terdampak langsung oleh pelemahan rupiah.

Bagi David, pernyataan tersebut terasa sangat jauh dari realitas yang ia hadapi sehari-hari. Meskipun sebagai pelaku usaha kecil di daerah ia memang tidak pernah bertransaksi langsung dengan mata uang dolar, namun usahanya justru banyak terimbas gejolak kurs dolar terhadap rupiah.

Dampak Pelemahan Rupiah pada UMKM

David menjelaskan bahwa dampak pelemahan rupiah menjalar ke harga bahan baku yang terus naik, yang pada akhirnya memukul biaya produksi UMKM. Sebagai pengusaha fesyen wanita, ia sangat bergantung pada bahan baku tekstil dan perlengkapan produksi seperti kain, plastik, dan kancing, yang harganya terus bergerak mengikuti kondisi pasar global.

“Kalau dibilang orang desa enggak terdampak dolar, ya jelas kami terdampak. Saya usaha di desa, produksi di desa, pekerjanya warga desa semua. Tapi harga kain, plastik, kancing, semuanya naik,” ujar David pada Selasa (19/5).

Ia menambahkan, tantangan saat ini sangat berat. “Sekarang tantangannya berat. Harga bahan naik, biaya produksi naik, tapi daya beli masyarakat justru turun. Mau menaikkan harga terlalu tinggi takut pembeli lari,” ucap David.

Perjalanan Merintis Usaha dari Nol

Perjalanan David membangun usahanya tidaklah mudah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini memulai semuanya dari nol pada tahun 2015, saat masih berstatus karyawan. Dengan modal sekitar Rp40 juta, ia nekat merintis usaha fesyen wanita rumahan, awalnya belajar pemasaran secara mandiri dan mencoba menjual produk melalui Facebook.

“Awalnya ya belajar sendiri. Enggak punya mentor. Semua otodidak dan saya sendiri sebelum mandiri pernah bekerja sebagai buruh konveksi pada seorang juragan,” terang David.

Setahun kemudian, ketika platform Shopee mulai berkembang di Indonesia, David melihat peluang besar di dunia perdagangan daring. Ia pun membuat akun toko dan mulai serius berjualan pakaian wanita seperti blouse, long tunic muslim, hingga pakaian bawahan wanita, baik secara daring maupun luring.

Periode Emas di Tengah Pandemi

Perlahan usahanya berkembang, dengan pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan pembeli terbesar justru berasal dari luar Pulau Jawa hingga Papua. Saat ini, usahanya memiliki sekitar 18 item produk aktif, dengan tiga produk menjadi best seller yang paling diminati pelanggan. Harga produknya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp65 ribu untuk atasan wanita hingga Rp86 ribu untuk long tunic muslim sebelum diskon.

Ironisnya, masa pandemi Covid-19 justru menjadi periode emas bagi usaha David. Ketika banyak usaha konvensional mengalami penurunan drastis, penjualan daring miliknya melonjak tajam. Sebelum pandemi, jumlah pengiriman hanya sekitar 20 hingga 30 resi atau transaksi per hari. Namun pada periode 2019 hingga 2021, angka itu melonjak hingga mencapai sekitar 3.000 transaksi per hari.

“Jadi waktu pandemi orang belanja online terus. Trafiknya tinggi sekali dan saya pada saat itu justru mendulang pesanan banyak sekali,” ungkapnya. David mengakui sistem Shopee sangat membantu perkembangan usahanya, terutama dari sisi transparansi keuangan dan pencairan saldo harian yang membantu perputaran modal. Program campaign dan promosi dari marketplace juga menjadi faktor penting dalam mendongkrak penjualan. “Kalau ikut campaign tertentu, trafik bisa naik dua kali lipat dibanding biasanya,” bebernya.

Bertahan di Tengah Tantangan Ekonomi

Dari hasil usahanya, David perlahan mengubah kehidupan keluarganya. Ia yang dulu hanya seorang karyawan kini mampu memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji. Bahkan ia baru menikah pada tahun 2023 setelah usahanya dirasa cukup mapan.

Kini, usaha David bukan lagi sekadar bisnis pribadi. Sedikitnya 80 warga sekitar ikut bergantung dari aktivitas produksi pakaian jadi miliknya, sebagian bekerja menjahit, memotong pola, memasang kancing, hingga mengemas barang sebelum dikirim. Oleh karena itu, ketika penjualan menurun, yang dipikirkan David bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan juga nasib para pekerjanya.

“Kondisi sekarang itu bukan bicara untung besar lagi. Bisa bertahan saja sudah syukur,” katanya pelan. David menambahkan, tantangan terbesar UMKM saat ini adalah menjaga usaha tetap hidup di tengah kondisi pasar yang berubah cepat. Trafik penjualan yang tidak stabil membuat pelaku usaha harus terus beradaptasi. Ia sendiri mengaku pernah tertipu hingga Rp167 juta dari pemesan.

Meskipun penuh tantangan, David tetap memilih untuk bertahan. Ia berharap pemerintah lebih memahami kondisi nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil di daerah. “Kami memang enggak pegang dolar. Tapi barang-barang yang kami beli ikut naik karena dolar. Jadi ya tetap kena dampaknya,” jelas David.