Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memegang peran vital dalam memperkuat daya saing hilirisasi ayam domestik. Hal ini menjadi kunci strategis untuk menghadapi potensi impor ayam dari Amerika Serikat (AS) yang merupakan bagian dari Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia – Amerika Serikat (The Agreement on Reciprocal Trade/ART).

Menurut Tauhid, adanya kebutuhan pasokan besar dari dalam negeri untuk program MBG dapat menciptakan pasar khusus yang signifikan bagi produk hilirisasi ayam lokal. “Karena adanya pasokan dari dalam negeri untuk kebutuhan MBG besar, maka market-market khusus itu harus dipasok dari dalam negeri sehingga ada market khusus yang memang bisa dimasukkan dalam proyek hilirisasi ayam,” ujar Tauhid Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan, program pemerintah seperti MBG harus dimanfaatkan optimal oleh peternak ayam lokal. Tujuannya adalah untuk meraih keuntungan sekaligus meningkatkan daya saing produk mereka. Untuk itu, Tauhid menekankan pentingnya menciptakan kondisi yang kompetitif di pasar domestik.

“Menurut saya harus kompetitif di dalam negeri. Misalnya memastikan pasokan bahan makan untuk ternak ayam bisa lebih murah, didukung oleh kebijakan pemerintah, kemudian untuk obat dan kesehatan untuk peternakan ayam serta sebagainya termasuk infrastrukturnya pemerintah bisa bantu sehingga harga jual produk ayam domestik itu bisa lebih murah dibandingkan produk impor,” kata Tauhid Ahmad.

Sebagai informasi, Perjanjian ART mengatur beberapa aspek impor produk ayam dari AS. Indonesia akan mengimpor live poultry dalam bentuk Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor, dengan estimasi nilai sekitar 17-20 juta dolar AS. GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama, mengingat belum tersedianya fasilitas pembibitan GPS di Indonesia.

Selain itu, impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs tidak dilarang, selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, kebutuhan tertentu, dan ketentuan teknis yang berlaku. Untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya, dengan estimasi volume impor sekitar 120.000-150.000 ton per tahun.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri. Kebijakan yang diambil juga bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional, serta memastikan tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik.

Sumber Gambar: https://kilatnews.co/wp-content/uploads/2026/03/follow.webp