Manajer tim Ducati Lenovo Team, Davide Tardozzi, secara terbuka mengakui adanya kesalahan internal tim yang menjadi penyebab utama performa buruk Francesco Bagnaia di MotoGP Brasil 2026. Tardozzi menyebut, pembalap andalannya itu kehilangan rasa percaya diri saat menunggangi motor Ducati GP26, yang berujung pada hasil mengecewakan sepanjang akhir pekan balapan.
Bagnaia Kembali Terjatuh, Catat Rekor Negatif
Francesco Bagnaia kembali gagal finis setelah terjatuh pada lap ke-11 saat balapan utama di Sirkuit Goiania. Insiden ini terjadi ketika ia berada di posisi ke-11, membuntuti pembalap LCR Honda, Johann Zarco. Kehilangan grip ban depan di tengah tikungan membuat Bagnaia tergelincir dan tidak dapat melanjutkan balapan.
Hasil pahit ini menambah panjang catatan negatif Bagnaia, dengan tujuh kali gagal finis (DNF) dalam sembilan balapan terakhir di MotoGP. Mayoritas kegagalan tersebut disebabkan oleh kecelakaan, mengindikasikan adanya masalah fundamental, baik dari aspek teknis motor maupun adaptasi sang juara dunia terhadap Ducati GP26.
Akar Masalah Sejak Sesi Kualifikasi
Permasalahan yang dialami Bagnaia di Brasil sebenarnya sudah terlihat sejak sesi kualifikasi. Ia mengalami kecelakaan di Q2, yang memaksanya memulai balapan dari posisi ke-11. Ironisnya, di sesi yang sama, pembalap VR46 Racing Team, Fabio Di Giannantonio, justru tampil gemilang dengan meraih pole position menggunakan motor Ducati GP26 yang sama. Posisi start yang tidak ideal ini mempersulit Bagnaia untuk mengembangkan ritme balapan sejak awal dan meningkatkan risiko saat harus bersaing di tengah rombongan.
Ducati Akui Gagal Beri Kepercayaan Diri
Davide Tardozzi tidak menampik bahwa insiden yang menimpa Bagnaia bukan sekadar nasib buruk, melainkan konsekuensi dari kegagalan tim dalam menyediakan motor yang sesuai dengan kebutuhan pembalap. “Ini bukan soal nasib buruk. Ini kesalahan yang muncul karena kami belum bisa memberinya kepercayaan diri untuk balapan di levelnya,” tegas Tardozzi.
Ia menambahkan, kurangnya “feeling” terhadap Ducati GP26 membuat Bagnaia tidak mampu mengeluarkan potensi terbaiknya sebagai seorang juara dunia. Kendala ini juga terlihat jelas saat Bagnaia kesulitan menyalip Fermin Aldeguer dari tim Gresini Racing. Aldeguer, yang baru pulih dari cedera patah tulang paha, justru mampu tampil kompetitif dan finis di posisi kedelapan, sementara Bagnaia tidak mampu menembus barisan depan sebelum terjatuh.
Bagnaia Ungkap Ketidaknyamanan dengan GP26
Francesco Bagnaia sendiri mengonfirmasi bahwa ia belum menemukan kenyamanan optimal saat mengendarai motor GP26. Ia merasa tidak memiliki kendali penuh terhadap motor, terutama ketika mencoba mendorong batas performa. “Saya tidak nyaman, tidak bisa memaksimalkan performa, dan tidak punya feeling. Saya seperti bergantung sepenuhnya pada motor,” ungkap Bagnaia.
Menurutnya, posisi start bukan lagi faktor utama, sebab dengan kondisi motor saat ini, ia tetap akan kesulitan bersaing meskipun memulai balapan dari barisan terdepan. Pengakuan dari Tardozzi dan Bagnaia ini menjadi sinyal serius bagi Ducati di awal musim MotoGP 2026. Tim yang dikenal dominan ini harus segera menemukan solusi untuk mengembalikan performa Bagnaia, jika tidak ingin ambisi perebutan gelar juara dunianya terhambat.
