Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), memulai gerakan penanaman rumput gajah sebagai langkah strategis untuk memperkuat agribisnis ternak sapi. Inisiatif ini menandai upaya daerah tersebut untuk mentransformasi sektor peternakan dari model tradisional menuju skala industri modern.

Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah, menegaskan pentingnya langkah ini saat acara penanaman rumput gajah di Kecamatan Sekongkang, Jumat (1/5/2026). “Ini menjadi awal transformasi peternakan tradisional menuju skala industri modern,” ujar Amar Nurmansyah.

Menurut Amar, perwujudan visi tersebut diawali dengan penyediaan pakan ternak berkualitas. Dua jenis pakan utama yang dikembangkan adalah rumput gajah dan lamtoro. Inisiatif ini diambil untuk menjawab tantangan pasar daging yang permintaannya selalu tinggi, terutama dari perusahaan-perusahaan di wilayah Sumbawa Barat.

Selama ini, pasar tersebut sulit ditembus oleh peternak lokal karena standar kualitas dan harga yang ketat. “Hanya satu cara kita penuhi standar mereka agar mengambil apa yang kita punya. Kita sesuaikan kualitas dan harganya,” jelas Bupati.

Selain penyediaan pakan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat juga mendatangkan investasi untuk mengoperasikan kembali Rumah Potong Hewan (RPH) yang sempat vakum sejak 2013. RPH ini dijadwalkan mulai memproduksi daging berkualitas pada September 2026.

Dukungan lain datang dari penyediaan lahan seluas 67 hektare di Kecamatan Brang Ene yang telah disiapkan sebagai pusat penggemukan sapi. Lahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan. “RPH hanya akan menerima sapi dengan berat minimal 300 kilogram,” tambah Amar Nurmansyah.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah membangun ekosistem plasma pengembangan. Dalam skema ini, peternak akan menggemukkan sapi berusia 1,5 hingga 2 tahun dengan berat awal sekitar 200 kilogram hingga siap potong dalam waktu singkat.

Pemerintah memberikan dukungan penuh pada tahun pertama program, meliputi pemberian bibit, pembangunan kandang standar industri, fasilitas air, hingga gudang pakan senilai Rp400 juta per kelompok peternak. Sebagai langkah berkelanjutan, Bupati juga melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pengawasan lapangan.

“Dengan pendampingan ini, diharapkan program agribisnis sapi ini mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat secara nyata dan konsisten,” pungkas Amar Nurmansyah.