Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Nathania, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Ia sukses menembus forum World Congress of Neurology (WCN) 2025 yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan, dan tampil sebagai pembicara termuda.

Di hadapan para pakar neurologi dari berbagai negara, Nathania mempresentasikan risetnya mengenai Tuberkulosis (TB) Meningitis dan stroke. Kedua penyakit mematikan ini masih menjadi persoalan serius, khususnya di banyak negara berkembang, dan menjadi fokus utama dalam presentasinya.

“Ini pengalaman luar biasa. Saya bisa berdiskusi langsung dengan tokoh dunia dan melihat bagaimana kolaborasi global sangat penting dalam riset,” ujar Nathania, mengungkapkan kesan mendalamnya.

Momen penting lainnya adalah ketika Nathania berkesempatan berdialog langsung dengan WFN Trustee, Prof. Tissa Wijeratne, serta Presiden World Federation of Neurology (WFN), Prof. Dr. Wolfgang Grisold. Forum WCN 2025 memang dirancang untuk mempertemukan peneliti muda dari berbagai negara, memfasilitasi pertukaran gagasan, dan membuka peluang kolaborasi internasional di bidang neurologi.

Nathania menegaskan bahwa riset yang ia angkat memiliki kaitan erat dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan. Fokus pada TB meningitis dan stroke dinilai krusial, mengingat tingginya angka kematian serta dampak kecacatan yang ditimbulkan oleh kedua penyakit tersebut.

“Saya ingin riset ini tidak berhenti di forum saja, tapi bisa mendorong solusi nyata, baik dari sisi pencegahan maupun terapi,” tegasnya, menunjukkan komitmennya terhadap dampak praktis dari penelitiannya.

Presiden WFN, Wolfgang Grisold, turut memberikan apresiasi terhadap kehadiran peneliti muda Indonesia dalam forum tersebut. Ia menyebut generasi muda sebagai kunci masa depan neurologi dunia. Capaian Nathania ini menjadi sinyal kuat bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing dan menonjol di forum ilmiah internasional.