Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), mencatat kemajuan signifikan dalam penanganan stunting. Hingga Sabtu, 28 Februari 2026, lima desa di wilayah tersebut berhasil mencapai status bebas kasus stunting, atau ‘zero stunting’.

Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hasil dari intervensi yang intensif. “Lima desa zero stunting di 2 kecamatan yakni Desa Mamu, Mapahi dan Tuwo Tani Jaya Kecamatan Pipikoro dan Desa Tanah Harapan dan Sarumana Kecamatan Palolo,” kata Samuel saat dihubungi di Sigi.

Samuel menambahkan, periode Februari hingga Agustus 2025 menunjukkan penurunan angka stunting yang signifikan sebesar 2,37 persen. “Datanya pada Februari stunting masih angka 13,92 persen dan Agustus turun menjadi 11,55 persen,” ucapnya.

Penurunan ini berdampak langsung pada jumlah anak penderita stunting di Sigi, yang berkurang dari 2.119 anak menjadi 1.731 anak dalam kurun waktu enam bulan intervensi. Capaian ini juga memperbaiki posisi Kabupaten Sigi dalam penanganan stunting di tingkat provinsi. “Stunting di Kabupaten Sigi saat ini berada dari posisi 12 menjadi 9 di Sulawesi Tengah,” sebut Samuel.

Tren Stunting Sigi dari Tahun ke Tahun

Samuel Yansen Pongi menjelaskan bahwa kasus stunting di Kabupaten Sigi secara konsisten menunjukkan penurunan dari tahun 2021 hingga 2023. Namun, pada tahun 2024, terjadi sedikit kenaikan. “Hanya memang pada 2024 terjadi kasus kenaikan 6,6 persen dari 26,4 persen menjadi 33 persen,” ujarnya.

Meski demikian, data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi mencatat penurunan drastis pada tahun 2025, yakni sebesar 21,45 persen. Angka stunting yang sebelumnya 33 persen pada 2024, berhasil ditekan menjadi 11,55 persen pada 2025.

Untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian ini, Samuel mengajak seluruh lintas sektor untuk terus berkolaborasi dan bekerja sama dalam upaya penurunan stunting di Kabupaten Sigi, dengan target akhir mencapai zero kasus di seluruh daerah.