Senja selalu datang lebih cepat di rumah Fatima, Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Selama lebih dari 15 tahun, ketika matahari terbenam di balik deretan hutan pinus, rumah panggung berukuran empat kali empat meter itu ikut tenggelam dalam kegelapan. Tidak ada listrik, hanya cahaya redup dari damar atau lilin yang menerangi dinding anyaman bambu.

Namun, kini keadaan telah berubah. Sebuah lampu kecil menyala setiap malam di rumah tersebut, tenang, stabil, dan cukup terang untuk menerangi ruang keluarga sederhana tempat Fatima tinggal bersama suami dan dua anaknya. Cahaya itu berasal dari panel listrik tenaga surya yang dipasang melalui program bantuan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bagi keluarga prasejahtera di desa tersebut.

“Alhamdulillah sekarang ada penerangan. Anak-anak bisa belajar malam hari,” tutur Fatima dengan wajah berseri, menggambarkan perubahan kecil yang sangat berarti bagi keluarganya.

UPI Berdampak LIMAR: Menerangi Pelosok Negeri

Rombongan UPI, yang dipimpin langsung oleh Rektor UPI Didi Sukyadi, datang ke Desa Mekarsari untuk melihat dampak program pemasangan panel listrik tenaga surya. Didi menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari “UPI Berdampak LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat)”.

“Program tersebut merupakan bagian dari UPI Berdampak LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat), sebuah inisiatif pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan akses energi bagi warga yang belum memiliki penerangan listrik memadai,” ucap Didi.

Melalui program ini, panel listrik tenaga surya dipasang di rumah-rumah warga yang selama ini hidup tanpa akses listrik. Selain memantau panel yang telah digunakan warga selama beberapa bulan terakhir, tim UPI juga memasang panel baru di rumah dua keluarga lainnya. Didi berharap program ini menjadi solusi efektif bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari jaringan listrik utama.

“Di banyak daerah terpencil di Indonesia, persoalan akses energi masih menjadi tantangan besar. Panel surya menjadi salah satu alternatif yang relatif mudah diterapkan karena memanfaatkan sumber energi yang tersedia sepanjang hari, matahari,” ungkapnya.

Kehidupan di Tengah Hutan Pinus

Rumah Fatima berdiri di tengah kawasan hutan pinus yang sunyi. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan melalui jalan setapak yang menanjak. Rumah panggung kecil itu berdinding bilik bambu dan berlantai papan kayu yang mulai aus. Di bagian dapur, tanah menjadi lantai tempat tungku kayu digunakan untuk memasak.

Di halaman kecil samping rumah, empat ekor kambing titipan milik tetangga dipelihara di kandang sederhana. Fatima dan suaminya merawat kambing tersebut sebagai tambahan penghasilan. Suaminya sendiri bekerja sebagai penyadap getah pinus di hutan sekitar desa, pekerjaan yang tidak selalu menghasilkan pendapatan tetap, terutama saat musim hujan.

Di rumah sederhana itu, Fatima membesarkan dua anaknya: anak pertama perempuan berusia 13 tahun yang kini duduk di kelas dua SMP, dan anak kedua laki-laki berusia enam tahun yang masih duduk di kelas dua SD. Selama bertahun-tahun, kehidupan malam mereka sangat terbatas.

“Kalau malam biasanya pakai damar atau lilin. Belajar juga paling siang saja,” ujar Fatima. Lampu damar yang redup membuat anak-anaknya jarang membuka buku pada malam hari.

Cara Kerja dan Manfaat Panel Surya

Panel surya yang kini terpasang di rumah Fatima bekerja dengan cara sederhana. Pada siang hari, panel menyerap energi matahari dan menyimpannya dalam baterai, yang kemudian digunakan untuk menyalakan lampu pada malam hari. Kini, lampu kecil di rumah Fatima dapat menyala hingga malam, memungkinkan anak-anaknya belajar setelah pulang sekolah.

“Mungkin bisa belajar malam hari, bisa mengaji juga,” imbuhnya. Lampu juga dipasang di bagian depan rumah, sehingga halaman kecil tidak lagi gelap. Fatima mengatakan, kini ia tidak perlu lagi membawa senter ketika keluar rumah pada malam hari.

Panel listrik tenaga surya ini memang tidak menghasilkan daya besar, hanya cukup untuk menyalakan beberapa lampu dan mengisi daya telepon genggam. Namun, bagi keluarga yang sebelumnya tidak memiliki listrik sama sekali, fasilitas ini sangat membantu. Dalam kondisi cuaca cerah, listrik dari panel dapat digunakan sepanjang malam. Namun, saat hujan turun beberapa hari berturut-turut, penggunaan harus dihemat.

“Kalau cuaca mendung biasanya lampu hanya dinyalakan dua saja supaya tidak cepat habis. Meski demikian, selama beberapa bulan penggunaan, panel surya tersebut bekerja dengan baik. Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala,” paparnya.

Tantangan Akses Air Bersih

Meski listrik kini tersedia, kehidupan di rumah Fatima masih jauh dari kata mudah. Akses air bersih masih menjadi persoalan. Sumber air berada cukup jauh dari rumahnya, dan jalur menuju ke sana sering licin, terutama saat musim hujan. Beberapa waktu lalu, jalur air bahkan sempat tertutup longsoran bambu.

“Harapan saya ke depan ada bantuan untuk penyediaan akses air,” ujarnya, berharap suatu saat sumber air bersih bisa lebih dekat dengan rumahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Fatima mengucapkan terima kasih kepada UPI, khususnya Rektor UPI, yang telah membantu penyediaan panel surya di rumahnya. “Ibu mah ngucapkeun rebu rebu nuhun ka UPI sareng ka Pa Rektor anu parantos ngabantos bumi ibu janten gaduh listrik mandiri janten upami wengi barudak tiasa belajar margi parantos caang,” ucapnya dalam bahasa Sunda.

Bagi banyak orang di kota, lampu listrik adalah hal yang biasa. Namun di Desa Mekarsari, cahaya lampu kecil di rumah Fatima memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia bukan sekadar penerangan, melainkan sebuah kesempatan bagi anak-anak untuk belajar lebih lama dan harapan akan masa depan yang lebih cerah.