Meja tamu saat Lebaran seringkali identik dengan deretan stoples berisi nastar, kastengel, atau putri salju. Namun, pemandangan berbeda terlihat di salah satu hunian di kawasan Rungkut, Surabaya. Ratna, sang pemilik rumah, justru setia menghidangkan camilan tradisional atau “kue jadul” sebagai suguhan utama bagi sanak saudara yang bersilaturahmi.
Pilihan Ratna jatuh pada kudapan sederhana seperti kerupuk pohong (singkong), usus goreng, kacang goreng, hingga kerupuk rambak. Di tengah gempuran kue mentega yang seragam di setiap rumah, ia meyakini camilan tradisional justru memberikan sensasi segar bagi lidah para tamu.
Camilan Gurih Jadi Pembeda di Hari Raya
“Hampir setiap rumah yang dikunjungi tamu sudah menyediakan kue kering serupa. Kalau saya suguhkan kerupuk pohong atau usus goreng, tamu malah lahap karena rasanya gurih dan tidak bikin enek,” ujar Ratna saat ditemui di kediamannya, Sabtu (21/3/2026).
Momen Idulfitri di Indonesia memang tidak lepas dari tradisi mudik dan halal bihalal. Aktivitas menyambung silaturahmi dari rumah ke rumah ini sering kali membuat tamu merasa bosan dengan rasa manis yang dominan dari kue pabrikan atau kue kering rumahan.
Bagi Ratna, menyajikan camilan tradisional bukan sekadar soal selera, tetapi juga cara menjaga kedekatan antar-generasi. Kudapan seperti ini sering kali memicu obrolan nostalgia di antara keluarga besar yang jarang bertemu, menciptakan suasana yang lebih hangat dan akrab.
“Justru camilan begini yang paling cepat habis. Kadang baru sebentar ditaruh di meja, sudah ludes karena tamu senang ngemil yang gurih-gurih sambil mengobrol santai,” tambahnya.
Fenomena ini membuktikan bahwa meskipun pasar dibanjiri produk modern yang praktis, panganan lokal tetap punya ruang istimewa di hati masyarakat Surabaya. Kesederhanaan kerupuk singkong terbukti mampu menghangatkan suasana Lebaran sekaligus menjadi pembeda di hari kemenangan.
