Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) sukses menggelar forum diskusi bertajuk Organizational Streamlining dalam rangkaian HCM Talks ke-5 pada Jumat, 27 Februari 2026. Forum ini mempertemukan para praktisi dan akademisi untuk mendalami strategi perampingan organisasi sebagai kunci menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika ekonomi global.

Mengusung tema “Navigating the Future of Human Capital: Business and Organizational Streamlining through Lean HR and People Analytics”, diskusi ini menghadirkan sejumlah pakar terkemuka. Mereka adalah Associate Partner McKinsey & Company Martin Santoso; Chairman of Nation Brand Team Kementerian Pariwisata sekaligus dosen, Priyanto Rudito; serta SVP Business Transformation and Optimization Pertamina (Persero), Mia Khrishna Anggaraini. Pandangan akademik disampaikan oleh Ketua Kelompok Keahlian Strategic Decision Making and Negotiation (KK DMN) SBM ITB, Utomo Sarjono Putro, dengan Achmad Fajar Hendarman dari Kelompok Keahlian People and Knowledge Management (KK PKM) SBM ITB sebagai moderator.

Organizational Streamlining sebagai Strategi Optimalisasi

Dalam pemaparannya, Martin Santoso menekankan bahwa organizational streamlining jauh melampaui sekadar penggabungan atau pemisahan unit organisasi. Menurutnya, langkah ini harus diposisikan sebagai strategi transisi menuju optimalisasi kinerja perusahaan secara menyeluruh.

“Organizational streamlining seharusnya menjadi enabler yang mendorong transisi menuju optimalisasi organisasi demi keberlanjutan bisnis, bukan hanya perubahan struktur semata,” ujar Martin.

Senada, Priyanto Rudito menambahkan bahwa transformasi organisasi perlu dilakukan secara bertahap melalui konsep Getting Better, Broader, and Bolder. Ia menjelaskan, pembenahan mendasar pada model bisnis menjadi tahap awal sebelum organisasi memperluas dan memperbesar skala usahanya.

“Dalam konteks BUMN, transformasi mencakup pengelolaan pertumbuhan organik dan anorganik, yang harus ditopang oleh operational excellence serta implikasi nyata pada pengelolaan human capital,” kata Priyanto.

Dari perspektif korporasi, Mia Khrishna Anggaraini membagikan pengalaman transformasi organisasi di Pertamina, termasuk perubahan struktur sebelum 2018 hingga pembentukan holding dan subholding. Ia menegaskan bahwa proses perampingan organisasi harus dimulai dari penguatan fondasi agar perusahaan mampu tumbuh secara berkelanjutan.

“Streamlining menekankan pendekatan strategis. Fondasi harus diperbaiki terlebih dahulu agar organisasi menjadi lebih kuat, lalu berkembang menjadi lebih besar dan lebih luas. Ini bukan sekadar aksi korporasi, melainkan upaya menyatukan seluruh pemangku kepentingan agar tetap stabil dan adaptif,” ujarnya.

Kolaborasi Akademisi dan Tantangan Perubahan Pola Pikir

Utomo Sarjono Putro melihat diskusi ini sebagai peluang besar untuk agenda riset dan kolaborasi antara akademisi dan BUMN. Ia menyoroti bahwa transformasi berbasis data dan restrukturisasi organisasi menghadapi tantangan signifikan di tengah ketidakpastian global.

“Akademisi memiliki kapasitas riset dan metodologi, sementara praktisi BUMN memiliki pengalaman dan konteks nyata. Kolaborasi keduanya dapat melahirkan inovasi yang berdampak,” kata Utomo.

Sementara itu, Achmad Fajar Hendarman menyoroti pentingnya pengelolaan aspek manusia dalam proses transformasi. Ia menyebut perubahan pola pikir sebagai tantangan utama yang harus diantisipasi melalui manajemen resistensi yang matang.

“Tantangannya bukan sekadar bagaimana memangkas struktur, tetapi bagaimana memperbaiki proses bisnis. Transformasi tidak hanya bersifat struktural, melainkan juga menyangkut pola pikir dan persepsi seluruh pemangku kepentingan,” tegas Achmad.

Forum ini menyimpulkan bahwa organizational streamlining merupakan proses strategis untuk mengoptimalkan proses bisnis dan model operasional, bukan sekadar efisiensi struktural. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah dinamika persaingan global.