Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di Timika, Papua Tengah, yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) dan didukung PT Freeport Indonesia, kini menerapkan model pembelajaran sains inovatif. Program ini mengintegrasikan ilmu pengetahuan berbasis data dengan kewirausahaan atau edupreneurship melalui budi daya hidroponik, membentuk kemampuan berpikir kritis sekaligus mendorong pemahaman proses ilmiah pada siswa.

Kepala SATP, Sonianto Kuddi, menjelaskan bahwa inisiatif ini memberikan dampak positif. “Anak-anak belajar bahwa setiap informasi harus didasarkan pada data, sehingga mereka tidak mudah percaya tanpa bukti,” ujar Sonianto di Timika, Rabu (4/2/2026).

Siswa dilatih untuk melakukan penelitian sederhana. Mereka mengamati pertumbuhan tanaman hidroponik, mencatat jumlah daun, tinggi tanaman, hingga waktu pertumbuhannya. Data yang terkumpul kemudian diolah dalam bentuk tabel dan grafik untuk dianalisis, menjadi dasar pengambilan kesimpulan ilmiah.

Membangun Jiwa Wirausaha Melalui Hidroponik

Pembelajaran sains berbasis data ini dipadukan dengan program edupreneurship yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Edupreneur SATP. Tujuannya adalah membekali siswa dengan kemampuan dasar kewirausahaan, meliputi analisis modal, perhitungan waktu panen, potensi keuntungan, hingga risiko kerugian usaha.

Sonianto Kuddi mengungkapkan, UPT Edupreneur telah berjalan selama dua tahun dan berhasil menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta. “Dana itu dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan lomba sains tingkat kabupaten serta keberangkatan siswa mengikuti kompetisi di Jakarta dan Yogyakarta,” jelasnya.

Produk sayuran hidroponik yang dihasilkan meliputi pakcoy dan selada. Hasil panen ini dipasarkan melalui kerja sama dengan kontraktor pemasok kebutuhan sayuran PT Freeport Indonesia. Rata-rata produksi mencapai 100 kilogram setiap kali panen, dengan harga jual sekitar Rp50.000 per kilogram.

Fasilitas greenhouse yang digunakan memiliki luas sekitar 40,25 meter persegi, dilengkapi dengan 20 meja tanam. Setiap meja tanam memiliki 100 lubang, memungkinkan produksi skala besar. Pengelolaan fasilitas hidroponik dilakukan secara berkelanjutan dengan sistem tanam bergilir. “Semua fasilitas hidroponik kami kelola berkelanjutan supaya bisa panen setiap dua minggu sekali,” tambah Sonianto.

Dari Kunjungan Ahli hingga Kemandirian Siswa

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Taruna Papua, Elpianus Paat, menjelaskan bahwa implementasi program hidroponik ini bermula dari kunjungan seorang ahli hidroponik dari PT Freeport Indonesia. Ahli tersebut tertarik setelah melihat aktivitas proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) di SATP.

Diskusi berlanjut hingga mendatangkan tenaga ahli hidroponik, Okto Magai. Dengan pendanaan pribadi, Okto Magai membangun greenhouse beserta seluruh perlengkapan dan peralatannya. Ia juga melibatkan sejumlah karyawannya untuk memberikan pelatihan intensif kepada siswa dan guru SATP.

“Setelah satu hingga dua bulan pendampingan, siswa dilepas untuk mengelola sendiri. Namun kerja sama tetap berjalan, dan seluruh hasil panen dijual kembali ke mitra, yakni PT Namo Jaya Timika,” terang Elpianus.

Meskipun sebagian besar kebutuhan proyek hidroponik seperti bibit dan pupuk AB mix khusus tanaman hidroponik dapat diperoleh di Timika, kendala utama yang dihadapi adalah ketersediaan plastik UV. Barang ini sering habis di pasaran lokal, sehingga harus dikoordinasikan dengan yayasan pusat di Jakarta menggunakan dana hasil usaha.

Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di lingkungan sekolah, seperti terong dan tanaman lainnya. Aktivitas ini berfungsi sebagai bahan perbandingan metode tanam.

Pihak sekolah berharap, keterampilan yang diperoleh siswa melalui program ini dapat diterapkan setelah lulus. Setidaknya, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga atau bahkan berkembang menjadi peluang usaha mandiri di lingkungan masing-masing.