Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyatakan kekecewaan mendalam atas penolakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membantu Washington dalam operasi militer melawan Iran. Rubio menegaskan bahwa masalah ini akan menjadi bahan tinjauan ulang setelah konflik berakhir.
“Saya pikir itu sangat mengecewakan… Presiden [Donald Trump] dan negara kita harus meninjau kembali semua ini setelah operasi ini selesai,” kata Rubio kepada Al Jazeera pada Senin (30/3/2026), menanggapi pertanyaan apakah Uni Eropa atau NATO telah mengkhianati Washington dengan penolakan tersebut.
Rubio menggarisbawahi pentingnya timbal balik dalam aliansi. “Jika NATO hanya berarti kami membela Eropa ketika mereka diserang, tetapi mereka menolak memberikan hak penggunaan pangkalan saat kami membutuhkannya, itu bukan pengaturan yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Sulit bagi kami untuk tetap terlibat dan mengatakan bahwa ini menguntungkan bagi Amerika Serikat.” Meskipun demikian, Rubio menegaskan kembali dukungannya terhadap aliansi militer tersebut, dengan menyebut hak penggunaan pangkalan memberikan AS pengaruh, fleksibilitas, dan kemampuan operasi global.
Namun, Rubio memperingatkan bahwa Washington dapat meninjau ulang perjanjian jika akses tersebut ditolak saat terjadi konflik. Pernyataan ini menggemakan sentimen Presiden Donald Trump sebelumnya.
Pada 17 Maret, Presiden Trump sendiri telah menyatakan bahwa NATO telah melakukan “kesalahan yang sangat bodoh” dengan tidak mendukung Amerika Serikat dalam operasi militernya melawan Iran. Trump kala itu juga menyebut aliansi tersebut sebagai “jalan satu arah” dan tidak terkejut mayoritas negara NATO enggan bergabung.
Trump menegaskan bahwa operasi militer melawan Iran adalah ujian dukungan NATO untuk AS. Ia juga menyampaikan kekecewaan Washington terhadap sikap aliansi tersebut dan berjanji tidak akan melupakannya. Pada akhirnya, Trump menuduh bahwa bantuan dari NATO tidak lagi dibutuhkan.
