Data terbaru dari riset Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) mengungkapkan bahwa 66,8 persen dari total timbulan sampah rumah tangga di Kota Batu didominasi oleh sampah organik. Temuan ini menjadi pijakan penting bagi Desa Oro-Oro Ombo yang kini memelopori upaya pengelolaan sampah berkelanjutan, termasuk uji coba konsep zero waste.

Riset AKSA, yang dilaksanakan pada 11–18 Februari 2026, melibatkan 50 rumah tangga di Desa Oro-Oro Ombo. Dalam kurun waktu delapan hari, total sampah yang diproduksi mencapai 757,15 kilogram. Proporsi sampah organik yang mencapai dua pertiga dari total timbulan, seperti sisa makanan dan sayuran, menyoroti urgensi penanganan limbah dapur sebagai kunci utama kebersihan kota.

Jika sampah organik tidak dikelola dengan baik, ia akan membusuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan melepaskan gas metana yang berkontribusi pada kerusakan atmosfer. Sebaliknya, pengelolaan sampah organik sejak dari dapur warga dapat secara signifikan mengurangi beban pengangkutan sampah ke TPA.

Kolaborasi dan Harapan Desa

Program riset ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo, TPS3R Jalibar Berseri, dan organisasi lingkungan ECOTON. Tujuannya adalah memetakan komposisi sampah riil untuk menjadi dasar kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menyatakan harapannya agar data riset ini segera diimplementasikan dalam sistem kerja TPS3R Jalibar Berseri. “Kami ingin hasil riset ini menjadi pijakan agar pengangkutan sampah di tingkat rumah tangga bisa tuntas dalam satu hari melalui sistem jemput terpilah. Cara ini lebih cepat, hemat tenaga kerja, dan kami butuh dukungan pemerintah daerah agar sisa residu tetap dibantu pengelolaannya di TPA,” ujar Wiweko.

Selain sampah organik, riset juga mencatat proporsi sampah residu sebesar 17,1 persen dan sampah daur ulang 8,7 persen. Temuan khusus lainnya adalah residu berupa popok sekali pakai yang mencapai 8 persen, yang memerlukan penanganan serius karena potensi risiko biologisnya.

Strategi Pengurangan Plastik dan Edukasi

Tonis Afrianto dari ECOTON mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menyusun Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana bersama DLH Kota Batu. Ia menekankan pentingnya penerapan pembatasan plastik sekali pakai secara ketat, sejalan dengan regulasi pusat.

“Kita perlu membangun sistem pengangkutan terpilah dan kampanye masif. Pengurangan dan pembatasan adalah langkah paling utama. Surat Edaran Menteri LHK Nomor 2 Tahun 2026 tentang percepatan aturan pembatasan plastik sekali pakai adalah momentum yang tepat bagi daerah,” tegas Tonis.

Senada dengan Tonis, Eni Maulidiyah dari DLH Kota Batu mendorong penerapan teknik pengelolaan sampah organik seperti pembuatan kompos, eco-enzyme, dan budidaya maggot sebagai standar di setiap TPS3R. Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam gerakan Greenation melalui edukasi dari rumah ke rumah.

Langkah Strategis Berbasis Data

Tim peneliti telah merumuskan sejumlah langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan program ini, yang diawali dengan penguatan pemilahan sampah langsung dari sumbernya. Kewajiban warga untuk memisahkan limbah sejak dari dapur menjadi krusial agar material organik yang basah tidak mencemari sampah daur ulang, sehingga nilai ekonominya tetap terjaga.

Mengingat dominasi sampah organik, optimalisasi pengomposan melalui penggunaan komposter ember, lubang biopori, hingga budidaya maggot menjadi strategi inti yang sangat efektif untuk diterapkan di lingkup rumah tangga. Upaya teknis ini juga perlu diperkuat dengan regulasi tingkat desa yang mengatur pembatasan plastik sekali pakai guna menekan volume sampah residu secara signifikan.

Melalui pendekatan berbasis data ini, Desa Oro-Oro Ombo kini menjadi model percontohan bagi Kota Batu dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.