Gesit News – Lombok Timur — Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) kembali menghidupkan tradisi keilmuan warisan ulama dengan menggelar Pengijazahan Doa Ujian Tahun 2026 bagi siswa dan santri kelas akhir Nahdlatul Wathan (NW). Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 Januari 2026 ini menjadi ikhtiar spiritual kolektif dalam menyiapkan generasi santri menghadapi ujian akhir pendidikan.

Pengijazahan dipusatkan di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan Anjani, Lombok Timur, serta diikuti secara daring oleh santri NW di luar Pulau Lombok melalui platform Zoom. Ribuan santri dari berbagai jenjang pendidikan tercatat mengikuti kegiatan ini, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas.

Tradisi pengijazahan doa ujian merupakan amalan turun-temurun yang diwariskan oleh Pendiri Nahdlatul Wathan, Almagfurullah Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Hingga kini, tradisi tersebut terus dijaga sebagai bagian dari pembinaan ruhani santri, agar ujian tidak hanya dihadapi dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga dengan ketenangan batin dan adab.

Program ini diperuntukkan bagi santri MI/SD, MTs/SMP, serta MA/SMA/SMK/MAK Nahdlatul Wathan yang akan menyelesaikan masa studi pada jenjang masing-masing. PBNW menegaskan, pengijazahan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang pembentukan karakter dan spiritualitas santri.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap.
Pada Senin, 26 Januari 2026, pengijazahan diikuti santri dari Kabupaten Lombok Timur.
Kemudian Selasa, 27 Januari 2026, giliran santri dari Lombok Tengah.
Sementara pada Rabu, 28 Januari 2026, diikuti santri dari Lombok Barat, Kota Mataram, dan Lombok Utara, serta santri NW di luar Pulau Lombok secara virtual. Seluruh rangkaian acara dimulai pukul 08.30 WITA hingga selesai.

Sebelum doa ujian diijazahkan, para santri terlebih dahulu mendapatkan pembekalan adab dan tata cara pengamalan doa. Materi tersebut disampaikan langsung oleh para masyaikh dan tuan guru NW secara bergantian, sebagaimana tradisi yang telah berlangsung sejak masa pendiri organisasi.

Panitia juga mengatur teknis pelaksanaan dengan ketat, termasuk registrasi ulang peserta, kewajiban hadir 30 menit sebelum acara dimulai, serta penggunaan seragam sesuai jenjang pendidikan, sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan santri.

Dalam irsyadatnya, Ketua Umum PBNW, DR TGKH Muhammad Zainuddin Atsani, menegaskan bahwa menuntut ilmu harus dilandasi keikhlasan, kesabaran, dan adab yang benar. Ia mengingatkan agar santri tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik semata, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

“Ilmu akan menjadi cahaya apabila ditempuh dengan adab. Doa, bakti kepada orang tua, dan hormat kepada guru adalah kunci keberkahan,” pesan beliau di hadapan para santri.

Melalui pengijazahan doa ujian ini, PBNW berharap lahir generasi Nahdlatul Wathan yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan kokoh dalam akhlak, sejalan dengan nilai perjuangan dan sanad keilmuan para pendiri NW. nwonline.or.id