Ribuan jemaat Gereja Efata Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, memadati gereja untuk merayakan Hari Raya Paskah pada Minggu (5/4/2026). Ibadah yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Pendeta Oksi Pandie, menekankan makna pembaruan hidup bagi setiap orang percaya.

Sebelum ibadah utama dimulai, sukacita Paskah telah terasa melalui pawai obor yang diikuti oleh orang tua, pemuda, dan anak-anak. Mereka berjalan mengelilingi rayon dengan membawa obor, menciptakan suasana kebersamaan dan semangat iman yang kental. Selain itu, kegiatan pencarian telur Paskah juga digelar khusus untuk pemuda anak remaja (PAR), menjadi simbol kebangkitan Yesus Kristus dan sarana mempererat tali persaudaraan antarjemaat muda.

Momen teatrikal turut memeriahkan perayaan Paskah, menggambarkan kisah Maria Magdalena dan Maria yang mendatangi kubur Yesus pada hari Sabat. Dalam adegan tersebut, mereka tidak menemukan Yesus di sana, hingga seorang malaikat turun dari langit menyampaikan kabar sukacita, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.

Pendeta Oksi Pandie: Paskah Momentum Pembaruan Hidup

Dalam khotbahnya, Pendeta Oksi Pandie menegaskan bahwa Paskah adalah momentum penting bagi setiap orang percaya untuk mengalami pembaruan hidup. Ia mengutip Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, menjelaskan bahwa pembaruan hidup manusia terjadi karena kasih Allah melalui Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia.

“Kasih Kristus itulah yang seharusnya menguasai hidup kita. Apa yang kita lakukan, baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan sehari-hari, harus didorong oleh kasih Kristus, bukan untuk kepentingan diri sendiri,” ujar Pendeta Oksi.

Menurutnya, kebangkitan Kristus membawa perubahan mendasar dalam hati dan karakter manusia. Orang yang telah mengalami pembaruan tidak lagi hidup secara egois, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesama. Pendeta Oksi menjelaskan, banyak persoalan dalam kehidupan, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat, berakar dari sikap mementingkan diri sendiri.

“Paskah menjadi panggilan untuk meninggalkan kehidupan lama dan beralih kepada hidup yang dipenuhi kasih,” tegasnya. Ia menambahkan, “Orang yang telah diperbarui oleh Kristus tidak hanya mencari Tuhan pada momen tertentu seperti Natal atau Paskah, tetapi menghadirkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.”

Lebih lanjut, Pendeta Oksi menyebutkan bahwa di dalam Kristus, manusia adalah ciptaan baru. Masa lalu tidak lagi menjadi penghalang, sebab melalui kematian dan kebangkitan Kristus, manusia dipulihkan dan diperdamaikan dengan Allah. Jemaat juga diingatkan untuk menjadi pembawa damai.

“Tidak masuk akal jika kita merayakan Paskah tetapi masih menyimpan kebencian. Kebangkitan Kristus memanggil kita untuk hidup dalam kasih dan menjadi pembawa damai di mana pun kita berada,” katanya. Pendeta Oksi mengajak jemaat merenungkan bagian hidup yang perlu diperbarui oleh Kristus, baik dalam motivasi, pikiran, maupun tindakan.

“Paskah adalah bukti bahwa Allah memberikan kebaruan total bagi hidup kita. Karena itu, mari hidup sebagai manusia baru yang digerakkan oleh kasih Kristus,” pungkasnya.