Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara intensif menghubungi empat menlu dari negara-negara Islam, yaitu Kuwait, Bahrain, Pakistan, dan Qatar, untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah yang kian memanas. Serangkaian panggilan telepon ini dilakukan pada Senin (9/3) dan Selasa (10/3) di tengah eskalasi konflik regional.
Dalam keterangannya, Wang Yi menegaskan bahwa China menghargai seruan konsisten negara-negara Teluk untuk dialog dan negosiasi. “China akan terus berupaya untuk perdamaian, dan utusan khusus China untuk masalah Timur Tengah telah berangkat ke wilayah tersebut untuk melakukan mediasi dan akan memperkuat komunikasi dan pertukaran dengan Kuwait dan negara-negara lain,” kata Wang Yi, seperti diakses ANTARA di Beijing, Kamis (12/3/2026).
Wang Yi juga secara tegas menyebut bahwa serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang terjadi saat negosiasi Iran-AS masih berlangsung dan tanpa otorisasi dari PBB, merupakan “pelanggaran terang-terterangan terhadap hukum internasional”. Ia menambahkan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial negara-negara Teluk harus dihormati sepenuhnya, serta “setiap serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dan target non-militer patut dikutuk”.
Diskusi dengan Kuwait dan Bahrain
Pada Senin (9/3), Wang Yi berbicara dengan Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Jarrah Jaber Al-Ahmad Al-Sabah. Sheikh Jarrah menjelaskan bahwa Kuwait, meskipun bukan pihak yang terlibat langsung, tetap terdampak oleh kobaran api perang. “Negara-negara Teluk termasuk Kuwait tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog sambil tetap mempertahankan hak mereka yang sah untuk membela diri. Kuwait sangat menghargai posisi dan upaya yang telah dilakukan China, dan siap untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan China untuk bersama-sama mendorong pemulihan keamanan dan stabilitas di kawasan,” ujar Sheikh Jarrah.
Di hari yang sama, Wang Yi juga berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani. Wang Yi menyatakan keprihatinan mendalam China atas peningkatan tajam situasi di kawasan Teluk, termasuk keamanan Bahrain. “Sebagai mitra strategis negara-negara Teluk dan negara besar yang bertanggung jawab, China telah aktif mempromosikan perdamaian dan menghentikan perang. Jalan keluar dari kebuntuan terletak pada kembalinya dialog dan negosiasi secepatnya untuk berupaya memulihkan perdamaian,” tegas Wang Yi.
Menanggapi hal tersebut, Menlu Al Zayani menegaskan komitmen Bahrain terhadap perdamaian dan menyatakan negaranya “tidak akan menjadi sasaran serangan ilegal”. “Bahrain siap bekerja sama dengan negara-negara Teluk lainnya untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Tiongkok di platform bilateral dan multilateral termasuk PBB, untuk mencapai perdamaian dan stabilitas regional sesegera mungkin,” ungkap Al Zayani.
Koordinasi dengan Pakistan dan Qatar
Selanjutnya, pada Selasa (10/3), Wang Yi melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar. Dalam kesempatan itu, Wang Yi menegaskan bahwa China “tidak menyetujui serangan terhadap negara-negara Teluk dan mengutuk semua serangan terhadap fasilitas sipil dan warga sipil yang tidak bersalah”. China juga menghargai upaya mediasi Pakistan untuk meredakan ketegangan regional. “China menghargai upaya mediasi Pakistan untuk meredakan ketegangan regional dan siap untuk mempertahankan koordinasi dan kerja sama multilateral dan bilateral dengan Pakistan, mendukung Pakistan dalam terus memainkan peran konstruktif, dan bersama-sama berupaya untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut secepatnya,” kata Wang Yi.
Menlu Ishaq Dar menjelaskan posisi Pakistan terkait situasi di Iran dan mendesak semua pihak untuk menahan diri serta menyelesaikan krisis melalui negosiasi damai. Kedua menlu juga bertukar pandangan mengenai konflik perbatasan antara Pakistan dan Afganistan. Wang Yi menekankan, “Prioritas utama adalah mencegah eskalasi konflik dan kembali ke meja perundingan sesegera mungkin dan China dengan tegas mendukung Pakistan dalam upaya kontra-terorisme dan berharap Pakistan akan terus melakukan upaya maksimal untuk memastikan keselamatan personel, proyek, dan lembaga China di Pakistan.”
Terakhir, Wang Yi berbicara dengan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada hari yang sama. Wang Yi menyatakan bahwa sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China “selalu menjunjung tinggi prinsip dan membela keadilan dalam urusan internasional”. Ia menambahkan, “Kelanjutan perang hanya akan membawa kerugian, dan hanya akan menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat. China menyerukan gencatan senjata dan penghentian permusuhan segera, penyelesaian politik atas masalah ini, dan mendukung negara-negara Teluk untuk mengambil kendali masa depan kawasan ini.”
Menlu Al Thani menekankan bahwa Qatar harus mengambil langkah-langkah pertahanan diri yang diperlukan, sambil meningkatkan upaya diplomatik untuk menahan penyebaran dan eskalasi krisis.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Serangkaian upaya diplomatik China ini berlangsung di tengah eskalasi konflik yang signifikan di Timur Tengah. Sebelumnya, aksi militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mengebom sebuah sekolah perempuan di Iran selatan. Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat serangan hingga saat ini mencapai lebih dari 1.300 orang.
