Bank Central Asia (BCA) merespons langkah lembaga pemeringkat Moody’s yang menurunkan outlook bank tersebut. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menjamin postur pertumbuhan kredit BCA berada pada proses yang sehat dan mengacu pada prinsip kehati-hatian.
“Kami tetap akan menjaga postur loan growth (pertumbuhan kredit) kami berada pada proses yang sehat dan bisa kami pertanggungjawabkan,” ujar Hera saat ditemui di sela-sela peluncuran Ocean by BCA di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Hera menjelaskan, Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah BCA saat ini masih terjaga dengan baik. Bisnis BCA berjalan sangat baik, dan hingga kini, bank tersebut tidak merasakan adanya efek signifikan dari pertumbuhan kredit yang terjadi.
Dia juga menegaskan bahwa kredit yang diberikan telah melewati proses kehati-hatian dan ketaatan. “BCA bisa meyakinkan bahwa kredit yang kami berikan itu sudah melewati proses yang prudence (hati-hati). Kekhawatiran berlebihan menurut saya tidak dibutuhkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hera menjamin bahwa BCA taat terhadap semua persyaratan dasar dalam memberikan kredit yang berkualitas, aman, dan nyaman bagi para debiturnya. “Dan kami akan tetap menjaga itu dalam track yang memang saat ini sudah kami jaga,” kata Hera.
Mengenai penurunan outlook tersebut, Hera merasa hal itu merupakan hak Moody’s untuk memberikan penilaian dalam konteks makro ekonomi Indonesia. Sebagai salah satu pelaku utama bisnis di Indonesia, BCA mengikuti arus perdagangan dan ekonomi nasional. “Jadi, kami merasa bahwa itu (penurunan peringkat) adalah hak Moody’s untuk memberikan penilaian,” tambahnya.
Sebagai informasi, lembaga pemeringkat Moody’s pada Kamis (5/2) sebelumnya mengumumkan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2. Namun, Moody’s melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. Sejalan dengan langkah tersebut, Moody’s juga merevisi outlook lima bank di Indonesia menjadi negatif, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Alasan utama Moody’s menurunkan outlook BCA dari stabil ke negatif adalah pertumbuhan kredit yang pesat selama periode 2023–2025, khususnya pada segmen korporasi dan UMKM. Moody’s memperkirakan Return on Total Assets (ROTA) BCA akan turun tipis menjadi sekitar 3,5 persen pada tahun 2026.
Adapun kinerja intermediasi perbankan secara keseluruhan pada tahun 2025 tercatat tumbuh positif sebesar 9,63 persen (year on year/yoy) menjadi Rp8.586 triliun. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,83 persen yoy menjadi Rp10.059 triliun.
