Banjir melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Minggu (5/4/2026) sore, menyebabkan lebih dari 100 kepala keluarga (KK) terdampak. Peristiwa ini dipicu oleh luapan sungai setelah hujan deras mengguyur kawasan pegunungan, yang oleh warga setempat disebut sebagai “hujan daya”.

Camat Pemenang, Suhadman, menjelaskan bahwa banjir terjadi di beberapa titik akibat meluapnya sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan. Ia menyoroti fenomena “hujan daya” sebagai penyebab utama, meskipun hujan di wilayah Pemenang sendiri tidak berlangsung lama dan tidak terlalu deras.

Dampak di Dua Desa Terdampak

Dua desa yang terdampak cukup signifikan adalah Desa Pemenang Barat dan Desa Menggala. Di Dusun Telaga Wareng, Desa Pemenang Barat, air banjir masuk melalui jembatan. “Di Dusun Telaga Wareng air masuk melalui jembatan karena terjadi pendangkalan dan penyempitan sungai sehingga air meluap dan naik ke permukiman warga,” ujar Suhadman, Senin (6/4/2026).

Meski demikian, genangan air di lokasi tersebut tidak berlangsung lama, hanya sekitar satu jam sebelum surut. Sementara itu, di Dusun Menggala, Desa Menggala, luapan sungai menyebabkan lahan pertanian seluas 3,1 hektare yang sedang ditanami padi tergenang air. “Di Desa Menggala, air meluap dari sungai dan menggenangi sawah sekitar 3,1 hektare yang sedang ditanami padi,” jelas Suhadman.

Dampak paling parah terjadi di Dusun Kerujuk Barat, khususnya di kawasan Kampung Baru yang berada di bantaran kali. Luapan air menyebabkan sejumlah bangunan rusak, termasuk pondok dan dapur milik warga. Selain itu, beberapa kolam ikan masyarakat juga rusak, mengakibatkan ikan yang dipelihara hanyut terbawa arus banjir.

Harapan Warga dan Respons Pemerintah

Suhadman mengungkapkan, banjir tersebut terjadi meski hujan di wilayah Pemenang tidak berlangsung lama dan tidak terlalu deras. Menurut keterangan warga, banjir dipicu oleh fenomena yang oleh masyarakat setempat disebut “hujan daya”, yakni hujan yang turun di wilayah pegunungan sehingga menyebabkan aliran air dari hulu sungai meningkat secara tiba-tiba. “Hujan di sini sebenarnya tidak sampai satu jam dan tidak terlalu deras, tetapi masyarakat menyebutnya hujan daya, yaitu hujan yang turun di gunung sehingga air dari hulu turun dengan sangat deras,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat membangun tanggul permanen di bantaran sungai, menggantikan konstruksi bronjong yang dinilai kurang kuat menahan derasnya arus banjir. “Masyarakat berharap bantaran kali dibuatkan tanggul, karena dinilai lebih kuat dibandingkan bronjong jika menghadapi banjir besar,” ungkap Suhadman.

Pemerintah daerah melalui sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan penanganan dan pendataan kerugian. Tim dari BPBD dan Dinas Sosial telah meninjau wilayah terdampak sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga. Berdasarkan data sementara dari pemerintah desa, jumlah warga terdampak di Desa Menggala tercatat sebanyak 73 KK, sementara di Dusun Telaga Wareng Desa Pemenang Barat terdapat sekitar 30 KK.

“Hari ini pemerintah sudah menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak, termasuk petani yang sawahnya terendam sehingga tanaman padinya rusak serta warga yang kolam ikannya hanyut terbawa banjir,” tutup Suhadman.