Guru Besar sekaligus Pakar Pemikiran Islam Modern Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Prof. Zainal Abidin, menegaskan bahwa perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 menjadi momentum krusial untuk mengasah dan meningkatkan toleransi antar-umat beragama. Ia juga menekankan pentingnya memantapkan persatuan antarsesama manusia dalam kebhinekaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Zainal Abidin di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Minggu, 22 Maret 2026. Menurutnya, upaya menciptakan dan meningkatkan toleransi sosial harus diiringi dengan perbaikan hubungan bertetangga. Hal ini dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti berbagi makanan dengan niat ikhlas serta kejujuran sikap.

“Secara universal dianjurkan oleh ajaran agama-agama dunia. Nabi dan para sahabatnya memberi contoh yang begitu agung dan indah mengenai hal ini,” ujar Prof. Zainal Abidin.

Ia menjelaskan bahwa hubungan antar-umat beragama berada pada tataran hubungan sosial kemasyarakatan, dan tidak seharusnya memasuki wilayah akidah. Setiap agama memiliki garis batas untuk wilayah akidah masing-masing, dan dalam Islam, perbedaan ini perlu dihormati tanpa mencampuradukkan yang dapat mengakibatkan disharmoni.

“Islam punya prinsip yang jelas, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Soal kepercayaan adalah soal masing-masing dan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan di akhirat kelak,” ucap Prof. Zainal, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng.

Oleh karena itu, lanjutnya, tugas umat manusia adalah berupaya menjaga harmoni dan menumbuhkembangkan kerukunan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Umat manusia juga diwajibkan untuk menebar kebajikan kepada sesama makhluk Tuhan sebagai wujud dari ajaran agama.

Prof. Zainal Abidin menambahkan, sikap saling menghormati dan menghargai sesama manusia merupakan cerminan dari seorang Muslim sejati. Ia menekankan bahwa kebhinekaan dalam segala aspek kehidupan di dunia ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

“Bahkan merupakan sunnatullah dan bagian dari tanda-tanda Kemahakuasaan Tuhan. Bentuk kebhinekaan yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi adalah kebhinekaan dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya,” tutur Rais Syuriah PBNU itu.

Ia mengajak umat beragama untuk membiarkan adanya perbedaan keyakinan, cara berdoa, nama sebutan Tuhan, bentuk lukisan Tuhan, serta kemuliaan Tuhan yang dinyanyikan dalam beragam bahasa dan lagu. “Biarlah semua tumbuh dengan subur, karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan,” pungkas Prof. Zainal Abidin.