Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar benturan militer biasa. Lebih dari itu, eskalasi konflik di kawasan Teluk ini membawa ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk ketahanan energi dan rantai pasok di Indonesia.
Pakar hubungan internasional Universitas Airlangga (Unair), Probo Darono Yakti, pada Kamis (12/3/2026), menyoroti posisi strategis Iran yang menjadikannya kunci dalam sistem distribusi logistik dunia. “Setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berimplikasi pada ekonomi politik global. Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage (daya ungkit) ekonomi yang lebih besar,” tegas Probo.
Selat Hormuz, Urat Nadi Energi Dunia
Probo menjelaskan, konflik Iran memiliki bobot sistemik karena titik krusialnya berada di Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan rute vital bagi lalu lintas perdagangan energi global. Data menunjukkan, setidaknya 20 juta barel minyak per hari, atau setara 20 persen dari total konsumsi minyak dunia, melewati selat ini. Selain itu, hampir seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga sangat bergantung pada jalur yang sama.
Pasar energi, lanjut Probo, sangatlah sensitif. Harga minyak dunia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pasokan riil, tetapi juga oleh persepsi risiko. Kekhawatiran akan penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz, potensi gangguan pada kapal tanker, hingga perlambatan produksi, telah memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Efek Domino ke Berbagai Sektor
Lonjakan harga energi ini menciptakan efek domino yang merambat cepat ke berbagai sektor. Kenaikan harga bahan bakar secara otomatis mendongkrak biaya industri pelayaran dan logistik, yang pada gilirannya memicu kenaikan tarif listrik hingga melambungkan harga pangan global. Kondisi ini juga memukul aktivitas industri manufaktur di kawasan Asia yang sangat bergantung pada kelancaran pasokan energi dan bahan baku petrokimia.
“Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya,” ujar Probo, menekankan luasnya dampak yang ditimbulkan.
Ancaman Inflasi dan Kerentanan Indonesia
Selain sektor riil, pasar keuangan global turut terguncang. Ketidakpastian geopolitik mendorong investor memindahkan modalnya (capital flight) ke aset-aset minim risiko (safe haven). Di sisi lain, lonjakan harga energi memicu ancaman inflasi impor yang sangat membebani negara-negara berkembang.
Bagi Indonesia, ketegangan di Timur Tengah ini menjadi lampu merah. Sebagai negara yang masih berstatus net-importir energi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta ekonomi domestik Indonesia sangat rentan terhadap guncangan harga minyak global. Negara berkembang seperti Indonesia menghadapi risiko ganda: ketergantungan energi yang tinggi di tengah ruang fiskal yang terbatas.
Oleh karena itu, Probo menyarankan agar Pemerintah Indonesia tidak hanya melihat konflik ini dari kacamata diplomasi politik, tetapi juga dari perspektif geoekonomi. “Keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Strategi diversifikasi sumber energi, menjaga stabilitas ekonomi domestik, serta mempercepat transisi energi mutlak diperlukan oleh Indonesia untuk meredam guncangan ini,” tutupnya.
