Kepolisian Resor (Polres) Donggala, Sulawesi Tengah, bersama seluruh lintas sektor terkait berhasil merampungkan pembangunan jembatan penyeberangan darurat di Desa Labuan Kungguma, Kecamatan Labuan. Jembatan ini kembali menghubungkan Desa Labuan Kungguma dengan Desa Wani III, Kecamatan Tanantovea, setelah akses utama rusak parah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Donggala, Iptu Andhi Mardjianto, menyatakan bahwa pengerjaan jembatan darurat tersebut telah selesai pada Minggu (18/1/2026).

“Alhamdulillah sudah selesai dibangun jembatan penyeberangan darurat di Desa Labuan Kungguma,” kata Iptu Andhi Mardjianto kepada awak media di Banawa, Minggu (18/1/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan jembatan darurat ini merupakan solusi sementara untuk memulihkan mobilitas warga pascarusaknya akses jalan penghubung. Jembatan ini dibangun secara manual dengan memanfaatkan batang kayu kelapa sebagai penopang utama.

Saat ini, jembatan tersebut sudah dapat dilalui oleh warga yang menggunakan kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Pembangunan ini bertujuan untuk memulihkan aktivitas masyarakat agar kembali berjalan normal, khususnya dalam hal mobilitas warga, distribusi logistik, serta akses pelayanan masyarakat.

Operasi Kemanusiaan Libatkan Ratusan Personel

Dalam operasi kemanusiaan ini, Polres Donggala mengerahkan total 92 personel. Selain itu, 102 personel Satuan Brigade Mobil (Sat Brimob) Polda Sulawesi Tengah, 30 personel TNI AD, dan 25 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Donggala turut serta.

Tim kesehatan dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda Sulawesi Tengah juga hadir untuk memberikan pelayanan medis kepada warga yang terdampak bencana.

Puluhan Desa Terdampak Banjir dan Longsor

Data dari BPBD Sulawesi Tengah mencatat, sebanyak 26 desa di Kabupaten Donggala terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Bencana ini menerjang enam kecamatan, meliputi Tanantovea, Labuan, Sindue, Banawa, Banawa Tengah, dan Rio Pakava.

Total warga yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Tanantovea, Labuan, dan Banawa Tengah mencapai 205 kepala keluarga (KK) atau sekitar 625 jiwa.