Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 bukan sekadar perjalanan memindahkan jutaan manusia dari satu negara menuju Tanah Suci. Di balik perjalanan spiritual tersebut, terdapat sistem pelayanan besar yang bekerja siang dan malam untuk memastikan setiap jemaah dapat menunaikan rukun Islam kelima dengan aman, nyaman, sehat, serta memperoleh pengalaman ibadah yang bermakna.

Hal itu disampaikan Petugas Haji Daerah (PHD) Bidang Umum Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Azmi Asmuni Majid, melalui keterangan resmi dari Tanah Suci Mekah, Arab Saudi, pada Sabtu (23/5/2026). Menurut Azmi, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.

Amanah Besar Melayani Tamu Allah

“Haji bukan sekadar tentang berangkat menuju Mekah dan Madinah, tetapi tentang amanah besar dalam melayani tamu-tamu Allah,” ujar Azmi Asmuni. Ia menambahkan bahwa Pemerintah melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH), bersama petugas haji daerah, tenaga kesehatan, ketua kloter, serta pembimbing ibadah haji, menempatkan pelayanan jemaah sebagai prioritas utama.

Pelayanan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek administrasi, tetapi juga kesehatan, pembinaan ibadah, pendampingan psikologis, serta pelayanan kemanusiaan secara menyeluruh. Bagi jemaah haji asal Kabupaten Brebes yang tergabung dalam Kloter SOC 8, amanah tersebut dipikul oleh tim petugas yang akan mendampingi perjalanan ibadah para jemaah sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.

“Kloter SOC 8 dipimpin oleh Ketua Kloter Karwono. Sementara unsur pelayanan petugas haji daerah bidang umum dipercayakan kepada Azmi Asmuni Majid, bidang kesehatan kepada Supardi, tim kesehatan haji Indonesia terdiri atas Naely Sofia dan Gandar Apriliyandi. Sedangkan pembimbing ibadah haji diemban Ratoni. Keseluruhan unsur tersebut merupakan satu kesatuan pelayanan yang tidak dapat dipisahkan,” tutur Azmi Asmuni.

Tiga Pilar Sukses Haji 2026

Azmi Asmuni menyebut para petugas itu bekerja dalam satu tujuan, yaitu menghadirkan pelayanan paripurna bagi jemaah haji. Pada penyelenggaraan tahun 2026, pelayanan haji juga diarahkan pada pencapaian tiga pilar sukses haji, yakni:

  • Sukses ritual
  • Sukses ekosistem ekonomi
  • Sukses peradaban serta keadaban

Tiga pilar ini bukan sekadar slogan, melainkan menjadi arah dan filosofi pelaksanaan haji yang diharapkan memberi dampak luas bukan hanya saat berada di Tanah Suci tetapi juga setelah jemaah kembali ke daerah masing-masing.

Sukses Ritual: Memastikan Ibadah Mabrur

Menurut Azmi Asmuni, sukses ritual menjadi tujuan utama. Pilar pertama ini berarti seluruh jemaah mampu melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji sesuai tuntunan syariat dengan benar, tertib, aman, dan memperoleh haji yang mabrur.

Bagi sebagian jemaah, ibadah haji adalah perjalanan yang telah dinanti puluhan tahun. “Ada yang menabung bertahun-tahun, menjual hasil panen sedikit demi sedikit, bahkan ada yang menunggu antrean sangat panjang demi memenuhi panggilan Allah,” jelas Azmi Asmuni.

Pendampingan ibadah menjadi aspek yang sangat penting. Pembimbing ibadah haji, Ratoni, memiliki tugas besar untuk memastikan seluruh jemaah memahami tata cara pelaksanaan ibadah sejak sebelum keberangkatan hingga seluruh prosesi selesai.

Mulai dari niat ihram, pelaksanaan tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, hingga tahallul, semuanya membutuhkan pemahaman yang baik. Di lapangan, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan, mengingat perbedaan tingkat pendidikan, usia, kemampuan fisik, serta pemahaman keagamaan jemaah.

“Tidak sedikit jemaah lanjut usia yang membutuhkan penjelasan berulang-ulang. Petugas bukan sekadar memberikan instruksi, melainkan menjadi pendamping spiritual. Mereka juga harus memastikan jemaah tidak mengalami kebingungan saat menjalankan ritual yang dilakukan bersama jutaan manusia dari berbagai negara,” papar Azmi Asmuni.

Ketika jutaan orang bergerak menuju Arafah, Mina, atau Masjidil Haram dalam waktu yang hampir bersamaan, potensi kelelahan, kepadatan, hingga disorientasi dapat terjadi. Oleh karena itu, bimbingan yang intensif menjadi kebutuhan utama.

Peran Sentral Ketua Kloter dan Pelayanan Umum

Ketua Kloter SOC 8, Karwono, memiliki peran sentral dalam koordinasi pelayanan tersebut. Ketua kloter bertanggung jawab memastikan seluruh sistem berjalan dengan baik, mulai dari pembagian informasi, pengaturan jadwal, komunikasi dengan petugas sektor, hingga memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.

“Ketua kloter juga menjadi penghubung utama antara jemaah dengan penyelenggara haji. Tugas tersebut tidak sederhana. Di tengah padatnya jadwal pelayanan, ketua kloter harus memastikan seluruh unsur bergerak dalam satu irama,” ucap Azmi Asmuni.

Azmi Asmuni sendiri, sebagai petugas umum, memiliki tanggung jawab yang sangat luas. Pelayanan umum mencakup berbagai kebutuhan jemaah sehari-hari selama pelaksanaan ibadah haji, mulai dari memastikan akomodasi, konsumsi, transportasi, administrasi, hingga pendampingan terhadap berbagai kebutuhan mendesak jemaah.

“Dalam praktiknya, petugas umum sering kali menjadi pihak pertama yang dicari jemaah saat mengalami persoalan. Ada jemaah yang kehilangan kartu identitas, ada yang terpisah dari rombongan, ada pula yang membutuhkan bantuan mobilitas. Seluruh situasi tersebut menuntut respons cepat. Petugas umum tidak mengenal jam kerja. Mereka harus siap melayani kapan pun dibutuhkan,” pungkasnya.