Di tengah semaraknya bulan suci Ramadan, sebuah masjid kuno di pedalaman Kabupaten Pidie, Aceh, kembali menjadi pusat aktivitas religi yang ramai, terutama bagi kalangan anak muda. Masjid Tuha, demikian warga setempat menyebutnya, yang terletak di Desa Padang, Kemukiman Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, menjadi magnet bagi umat muslim untuk mengisi hari-hari Ramadan dengan ibadah dan kebersamaan.
Setiap malam di bulan Ramadan, masjid yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini dipenuhi warga. Mulai dari kegiatan ngabuburit menjelang berbuka puasa, salat tarawih, tadarus Al-Quran, hingga persiapan sahur, semuanya berlangsung meriah. Yang menarik, Masjid Tuha ini selalu diramaikan oleh anak muda setempat dan sekitarnya. Mereka bahu-membahu melakukan berbagai keperluan untuk menghidupkan Ramadan, seperti membersihkan lingkungan, mengisi air untuk wudu, hingga menyiapkan bagian dalam masjid untuk salat Magrib dan tarawih.
Tidak hanya itu, suasana berbuka puasa bersama di pelataran masjid juga menjadi momen yang dinanti. Sambil menikmati indahnya matahari terbenam yang menyentuh hamparan sawah nan luas, ratusan warga dan undangan duduk lesehan menikmati hidangan kenduri yang disumbangkan para donatur.
Transformasi Masjid Kuno: Dari Kayu hingga Beton Megah
Ir Musallamina, Koordinator Pembangunan Masjid Kuno Mangki, menjelaskan sejarah panjang masjid ini. “Zaman dulu cikal bakal masjid ini dibangun berkonstruksi kayu. Bentuk bangunannya ada 8 tiang penyangga dan luas 8×8 meter,” ujarnya kepada Media Indonesia, Sabtu (28/2). Setelah masjid baru dibangun sekitar 200 meter di sebelah timur pada tahun 1971, bangunan lama masjid tua ini sempat tidak berfungsi puluhan tahun.
Namun, semangat warga untuk menghidupkan kembali lokasi bersejarah ini tak padam. “Untuk menghidupkan kembali lokasi masjid kuno, warga membangun kembali permanen berkontruksi beton bersegi 8 dengan kapasitas sekitar 50 orang jemaah. Insya Allah pada 20 Januari 2020 M menjelma kokoh dan siap digunakan,” tambah Musallamina, yang juga seorang Insinyur Teknik Sipil dan mendesain sendiri bangunan unik tersebut.
Kini, Masjid Tuha tampil dengan desain yang mewah bak istana mungil. Interiornya dihiasi lampu khas Maroko, berlantai keramik, dan dilapisi ambal atau permadani produk Turki. Suasana sejuk berkat pendingin ruangan dan dikelilingi hutan pepohonan rimbun membuat jemaah betah beribadah, bahkan saat menunaikan salat tarawih 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat. “Keindahan ini demi kenyamanan jemaah. Banyak Aksesoris bagian dalam kita pesan produk Timur Tengah yaitu khas Turki dan Maroko. Banyak anak-muda tertarik bergabung berjemaah, hingga merekatkan mereka,” kata Musallamina.
Saksi Bisu Sejarah dan Tradisi Suluk
Masjid Tuha ini diyakini dibangun sekitar abad ke-16 atau ke-17 Masehi. Lokasinya yang sengaja jauh dari permukiman warga memiliki alasan historis. Konon, ini dilakukan agar tidak terdeteksi dari serangan musuh Portugis hingga penjajah kolonial Belanda yang kerap mencari tokoh pejuang Aceh di perkampungan.
Sebelum direnovasi, setelah puluhan tahun tidak difungsikan, warga sekitar sering mendengar sayup-sayup suara orang berzikir dan bertahmid di tengah malam sunyi. Hal ini ditengarai karena pada zaman dahulu, lokasi cikal bakal masjid kuno tersebut sering dijadikan tempat orang berzikir suluk memuji Ilahi setiap datang Ramadan. “Disini dulu ramai orang melaksanakan ibadah suluk. Mereka mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa terhapus dari segala dosa,” jelas Usman, 76, tetua Kemukiman Mangki.
Berkat pemugaran kembali dengan konstruksi beton dan penampilan mewah, kesan angker tempo dulu itupun kini sirna ditelan zaman. Areal masjid kuno seluas sekitar 50×30 meter ini kini sangat cocok dijadikan lokasi wisata religi.
Perekat Komunitas dan Pusat Donasi Ramadan
Setiap bulan Ramadan, masjid ini menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan. Tidak sedikit warga, diaspora di perantauan, serta beberapa pejabat eksekutif atau legislatif sering berdonasi untuk kenduri berbuka puasa. Setiap pekan, donatur menyedekahkan biaya untuk kenduri, lengkap dengan kambing sebagai lauk kari rempah khas Aceh atau hidangan nasi biryani khas India. Uang donasi tersebut kemudian dibelanjakan dan dimasak oleh panitia pelaksana yang merupakan kolaborasi pemuda dan orang dewasa.
Masjid Kuno ini merupakan aset religi masyarakat dari 10 desa di Kemukiman Mangki. Meskipun demikian, tempat ibadah ini hanya aktif digunakan dan ramai setiap datang Ramadan. Salat Jumat tidak dilaksanakan di lokasi ini, kecuali salat mandiri atau petani yang berteduh. Pelaksanaan Salat Jumat, Salat Idul Fitri, Idul Adha, dan aktivitas hari besar lainnya berlangsung di Masjid Baru Desa Padang, yang berjarak 200 meter di sebelah timur, lebih luas, dan dekat dengan jalan raya Simpang Tiga-Lampoih Sakat.
Terletak di perkampungan pedalaman sekitar 3 kilometer sebelah selatan pesisir pantai Selat Malaka, 7 kilometer sebelah timur Kota Sigli (ibu kota Kabupaten Pidie), atau sekitar 130 kilometer arah timur Banda Aceh (ibu kota Provinsi Aceh), Masjid Tuha Mangki menjadi simbol kebangkitan spiritual dan perekat komunitas di bulan suci Ramadan.
