MENASIONAL.COM – Lombok Timur – Ribuan jamaah Nahdlatul Wathan (NW) memadati Majelis Dakwah Hamzanwadi II dalam Pengajian yang dirangkaikan dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Rabu (2/9/2026).

Puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut. Selain memperingati kelahiran Rasulullah SAW, momentum Maulid juga menjadi ajang memperkuat kecintaan kepada Nabi, mempererat ukhuwah, serta meneguhkan kembali semangat perjuangan Nahdlatul Wathan.

Suasana khidmat terasa sejak rangkaian pengajian dimulai. TGH Lalu Anas Hasyri dan Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, MA., secara bergantian menyampaikan tausiah kepada jamaah.

TGH Lalu Anas Hasyri mengajak jamaah untuk menempatkan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak hanya diwujudkan melalui lantunan selawat, tetapi juga dengan meniru akhlak dan adab beliau.

Dalam pengajiannya, ia turut mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam memahami teks keagamaan. Al-Qur’an dan hadis, kata dia, perlu dipahami melalui penjelasan para ulama, sehingga perbedaan pendapat tidak berubah menjadi pertentangan.

Ia mencontohkan bagaimana para ulama terdahulu memiliki perbedaan dalam sejumlah persoalan fikih, namun tetap saling menghormati. Karena itu, perbedaan dalam masalah keagamaan semestinya disikapi dengan ilmu dan kedewasaan.

TGH Lalu Anas juga menjelaskan bahwa tasawuf pada hakikatnya berkaitan dengan upaya membersihkan diri. Bukan hanya penampilan lahiriah, tetapi juga membersihkan hati dari sifat iri, sombong, riya, dan penyakit hati lainnya.

Sementara Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, MA., menyoroti pentingnya keberadaan para ulama dan masyayikh dalam menjaga keberlanjutan perjuangan umat.

Ia menyebut keberadaan para masyayikh sebagai keberkahan dengan ungkapan “wujuduhum barokatun lana”. Menurutnya, perjuangan Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak berhenti setelah beliau wafat, tetapi terus dilanjutkan melalui generasi dan organisasi Nahdlatul Wathan.

Prof. Fahrurrozi juga mengajak jamaah untuk menjaga kekompakan dan memperkuat dukungan terhadap perjuangan PBNW.

“Jadi berbeda pendapat itu biasa. Para ulama pun biasa berbeda, tapi tidak saling benci,” ujarnya.

Pesan tersebut kemudian diperkuat dalam pengajian utama yang disampaikan Sohibul Majelis, Maulanasyaikh Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, Lc., M.Pd.I.

Di hadapan puluhan ribu jamaah, Maulanasyaikh mengajak seluruh jamaah menjadikan bulan Maulid sebagai kesempatan untuk memperbanyak syukur dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Intinya bulan Maulid itu hari apa pun selama bulan Maulid, kita harus banyak bersyukur, banyak membaca selawat,” katanya.

Menurut Maulanasyaikh, peringatan Maulid juga harus membawa perubahan dalam diri. Jamaah tidak cukup hanya hadir dalam majelis dan membaca selawat, tetapi perlu melakukan evaluasi terhadap diri masing-masing.

“Kalau kita kemarin kurang, mari kita perbaiki. Hidup itu kita harus perbaiki, perjuangan, hidup itu adalah perjuangan,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk menjaga adab, sopan santun, tata krama, serta hubungan baik dengan sesama.

Maulanasyaikh juga mengajak jamaah menghidupkan Selawat Nahdlatain yang diajarkan Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Selawat tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi ungkapan kecintaan kepada Rasulullah, tetapi juga berisi doa keselamatan, perlindungan, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam.

Pesan lainnya yang ditekankan adalah pentingnya menuntut ilmu. Maulanasyaikh mengingatkan para pelajar agar tidak berhenti belajar karena proses mencari ilmu berlangsung sepanjang kehidupan.

“Belajar itu terus seumur hidup. Tidak ada kata cukup dalam belajar,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan warga NW untuk terus memperkuat persatuan. Menurutnya, perjuangan organisasi membutuhkan kekompakan dari seluruh tingkatan, mulai dari kepengurusan hingga lembaga dan badan otonom.

“Mari kita sama-sama merapatkan barisan, perkuat barisan, memperbaiki diri kita. Harus mulai dari diri kita,” katanya.

Usai pengajian, jamaah melaksanakan Salat Magrib secara berjamaah. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Mahallul Qiyam.

Dalam suasana penuh khidmat, puluhan ribu jamaah berdiri bersama sambil melantunkan selawat sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid di Majelis Dakwah Hamzanwadi II pun menjadi momentum yang tidak sekadar memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menguatkan kembali pesan tentang akhlak, ilmu, persatuan, selawat, dan keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Wathan.