MENASIONAL.COM – Lombok Tengah – Desa Adat Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Pulau Lombok. Kehidupan masyarakat Suku Sasak di kawasan tersebut juga menyimpan beragam tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.
Sade menjadi salah satu kawasan yang memperlihatkan secara langsung kehidupan masyarakat Sasak melalui rumah tradisional, kerajinan tenun, hingga berbagai adat istiadat yang diwariskan antargenerasi.
Salah satu tradisi yang cukup dikenal adalah merariq atau kawin lari. Dalam praktik adat tersebut, seorang laki-laki yang hendak menikahi perempuan pilihannya membawa perempuan tersebut terlebih dahulu dari rumah keluarganya.
Perempuan kemudian berada di tempat yang telah disiapkan pihak laki-laki. Tidak terdapat batas waktu tertentu mengenai berapa lama proses tersebut berlangsung. Setelah dinilai tepat, pihak laki-laki mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada keluarga perempuan mengenai keberadaannya sekaligus membicarakan tahapan menuju pernikahan.
Proses selanjutnya dilakukan melalui pembicaraan antara kedua keluarga hingga tercapai kesepakatan untuk melanjutkan ke tahap lamaran dan pernikahan.
Selain tradisi perkawinan, kehidupan masyarakat Sade juga lekat dengan keberadaan rumah adat. Rumah-rumah tradisional di kawasan tersebut memiliki bentuk yang khas dengan bagian atap menyerupai gunung dan menggunakan alang-alang sebagai material penutupnya.
Dinding rumah umumnya menggunakan anyaman bambu, sedangkan lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan dedak padi. Rumah tradisional tersebut dikenal dengan Bale Tani Gunung Ratu.
Menariknya, rumah adat di Sade bukan hanya menjadi bangunan yang ditampilkan kepada wisatawan. Rumah-rumah tersebut tetap digunakan masyarakat sebagai tempat tinggal dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Salah satu kebiasaan yang juga menjadi perhatian wisatawan adalah perawatan lantai rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau. Bagi masyarakat setempat, bahan tersebut digunakan untuk membantu menjaga lantai dari debu, memperkuat permukaan serta mengurangi keberadaan serangga.
Kehidupan budaya Sade juga terlihat dari aktivitas perempuan masyarakat setempat yang sejak kecil diperkenalkan dengan keterampilan menenun. Tradisi tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan keterampilan membuat kain tenun khas Lombok.
Hasil tenun masyarakat Sade kemudian menjadi salah satu produk yang dapat ditemui wisatawan ketika berkunjung. Selain kain, masyarakat juga menjual berbagai cendera mata dan aksesori khas Lombok.
Di tengah kekayaan budaya tersebut, kawasan Sade sempat mengalami musibah kebakaran pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Kebakaran menghanguskan banyak rumah warga dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat setempat.
Material rumah adat yang banyak menggunakan kayu, bambu, alang-alang dan bahan mudah terbakar membuat api dapat menyebar dengan cepat.
Meski demikian, berbagai tradisi dan kehidupan masyarakat Sade tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sasak. Keberadaan kawasan tersebut tidak hanya menarik karena bentuk rumah tradisionalnya, tetapi juga karena masyarakatnya masih menjalankan berbagai warisan budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Nama Sade sendiri dalam bahasa Sasak memiliki makna yang berkaitan dengan obat atau kesadaran. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dari pusat Kota Mataram, perjalanan menuju Sade dapat ditempuh sekitar satu hingga satu setengah jam. Sementara dari Bandara Internasional Lombok, perjalanan umumnya membutuhkan waktu sekitar 25 hingga 30 menit.
Hingga kini, Desa Adat Sade tetap menjadi salah satu kawasan yang memperlihatkan bagaimana tradisi, kehidupan masyarakat dan pariwisata dapat berjalan berdampingan di tengah perkembangan zaman.
