Dendang musik diselingi riuh tawa memecah sunyinya salah satu jalanan kecil di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, pada Jumat (10/4/2026) pagi. Pukul 09.00 WITA, para mama dari Raja Ampat memulai hari mereka dengan semangat, bersiap untuk serangkaian kegiatan demi satu misi penting: memastikan keberlanjutan tradisi sasi.
Mereka adalah bagian dari kelompok sasi laut dari tiga desa di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya: Kelompok Waifuna dari Kampung Kapatcol, Kelompok Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Kelompok Zakan Day dari Kampung Salafen. Kehadiran mereka di Bali adalah bagian dari kegiatan Pertukaran Pembelajaran Kelompok Sasi Perempuan yang diselenggarakan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada Kamis hingga Jumat (9-11/04/2026).
Sasi merupakan aturan adat yang melarang pemanfaatan sumber daya alam, baik di darat maupun perairan, selama periode waktu tertentu untuk mendukung pelestarian ekosistem. Setelah masa sasi berakhir, masyarakat diizinkan mengambil sumber daya alam dalam rentang waktu terbatas dengan alat tangkap sederhana dan tidak merusak lingkungan.
Bagi para mama, sasi adalah “ibu” yang menjaga bentang laut Kepala Burung, julukan bagi Raja Ampat, agar tetap sehat dan lestari. Oleh karena itu, memastikan keberlanjutan sasi berarti memastikan keberlanjutan hidup anak cucu mereka sebagai masyarakat pesisir. Demi misi ini, mereka rela menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Pulau Dewata untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman.
Selama lima hari, lintas generasi perempuan ini berupaya memupuk asa akan keberlanjutan kelompok sasi perempuan di tengah berbagai ancaman krisis global.
Tukar Resep Mama Jaga Sasi
Di antara 20 peserta yang terdiri atas para mama dan perempuan muda, hadir Almina Kacili, Ketua Kelompok Sasi Waifuna sekaligus generasi pelopor kelompok sasi perempuan di bentang laut Kepala Burung. Usianya yang menginjak 64 tahun tidak menyurutkan semangat Almina untuk bergerak, berbagi cerita, dan pengalaman yang didapatnya selama menjaga keberlangsungan kelompok sasi perempuan.
Kelompok yang dipimpin Almina telah menjalankan sasi sejak tahun 2008 dan menjadi salah satu contoh inspirasi bagi kelompok sasi lainnya. Di bawah kepemimpinannya, Kelompok Waifuna masih konsisten melakukan patroli laut hingga hari ini. Almina menegaskan bahwa berbagai kesibukan domestik para mama tidak boleh menjadi alasan batalnya kegiatan patroli laut.
“Selama masa sasi berlangsung, patroli rutin penting dilakukan untuk mencegah munculnya nelayan-nelayan pencuri. Mencegah praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti menggunakan bom ikan di wilayah laut yang berbatasan dengan area sasi. Dengan begitu, kondisi laut akan tetap terjaga,” ujar Almina.
Namun, tantangan merawat sasi bukan hanya datang dari internal kelompok. Almina menyebutkan perubahan iklim yang kini membuat cuaca semakin tidak menentu menjadi tantangan lain bagi keberlangsungan sasi. Akibatnya, ombak besar dan angin kencang yang semakin sulit diprediksi kerap kali menghambat, bahkan tidak jarang menggagalkan jadwal patroli yang telah disusun.
“Beberapa tahun terakhir, ombak besar, angin kencang, dan hujan jadi lebih sering kami hadapi saat patroli di wilayah sasi. Kalau badai tiba-tiba datang, kami jadi tidak bisa kasih jalan patroli padahal sudah tinggal tarik perahu,” kata Almina.
Oleh karena itu, Kelompok Waifuna di bawah pendampingan sebuah yayasan konservasi tengah memperkuat tata kelola organisasi dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan tugas yang berbeda, mulai dari penyelam, pencatat hasil panen, hingga pengelola keuangan. Perempuan-perempuan berusia muda saat ini juga terus mendapatkan pelatihan, peralatan, hingga sertifikasi free-diving secara profesional sebagai bekal mereka ketika melakukan patroli maupun penangkapan sumber daya laut ketika sasi dibuka.
Bergeser ke desa sebelahnya, Ribka Botot (54), Ketua Kelompok Sasi Joom Jak, merasa mulanya lebih sulit mengalahkan rasa tidak percaya dirinya ketimbang berenang di laut lepas. Sebelum akhirnya membentuk kelompok sasi di desanya, ia adalah murid Almina Kacili, berguru segala ilmu yang dibutuhkan ke Desa Kapatcol. Meski sudah banyak belajar, ia merasa masih minim pengalaman organisasi, apalagi kemampuan berbicara di depan umum.
“Karena semua mendukung, pace dukung, mama jadi berani ambil peran jadi ketua kelompok sasi sampai sekarang. Sampai sekarang mama masih terus belajar,” kata Ribka.
Kelompok sasi perempuan asal Desa Aduwei ini berdiri sejak tahun 2022 dan mengelola wilayah sasi laut seluas lebih dari 260 hektare. Meski mayoritas anggota kelompoknya telah mahir berenang secara tradisional, Ribka tetap meminta pendampingan untuk memberikan pelatihan, peralatan, hingga sertifikasi free-diving secara profesional. Ia mengatakan pendampingan tersebut sangat berguna, apalagi saat patroli karena harus menyelam sampai ke dasar laut untuk mengamati dan mengingat perkembangan biota laut, utamanya lobster dan teripang yang akan dipanen.
“Pemantauan tidak hanya dilakukan di permukaan, tetapi juga hingga ke dasar laut. Jadi kalau lobster hanya boleh dipanen jika berukuran di atas 1 kilogram. Sementara lobster di bawah 8 ons atau yang sedang bertelur dilarang untuk diambil,” jelas Ribka.
Regenerasi Kepemimpinan dan Penguatan Kapasitas
Forum yang berlangsung pada 9-11 April di Bali tersebut memang bertujuan untuk memastikan keberlangsungan sasi di masa depan, dengan menguatkan peran perempuan sekaligus meregenerasi kepemimpinan mereka. Selama tiga hari itu, para peserta dibekali dengan sejumlah pengetahuan, di antaranya:
- Penguatan pengelolaan tradisi sasi sebagai bagian dari strategi konservasi ekosistem laut berkelanjutan, termasuk pengaturan waktu buka-tutup sasi, pengelolaan spesies target (misalnya lobster dan teripang), serta penerapan aturan tangkap (seperti alat, ukuran, dan lokasi).
- Penguatan kapasitas sebagai kelompok perempuan melalui pelatihan kepemimpinan perempuan, penguatan organisasi kelompok yang mencakup struktur, peran, maupun koordinasi. Pada sesi ini, para mama dan perempuan muda mendapatkan pelatihan mengenai peningkatan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan, hingga pengembangan kemampuan dalam mengelola sumber daya alam maupun manusia.
- Pembelajaran silang antar-kelompok untuk berbagi praktik baik, tantangan, adaptasi perubahan, hingga peluang kerja sama antar kelompok sasi.
Selain rangkaian kegiatan di Bali, para pengelola sasi itu juga mendapat sejumlah pelatihan yang dimaksudkan untuk melatih mereka agar kelak dapat menjadi pelatih untuk kelompok sasi baru di desanya. Pelatihan tersebut meliputi protokol pemanenan terkait ukuran dan metode yang berkelanjutan, pengumpulan data tentang keanekaragaman hayati dan kelimpahan, monitoring terkait sensus visual dan transek garis, serta pelatihan pascapanen.
