Perbaikan jalan rusak di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, telah dimulai menyusul banyaknya keluhan dan insiden kecelakaan yang terjadi. Kerusakan jalan akibat cuaca ekstrem ini tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga telah merenggut nyawa, termasuk anggota keluarga kepolisian setempat.
Kondisi jalan yang memprihatinkan ini bahkan sempat viral di media sosial, dijuluki sebagai “jalanan paling berbahaya” di Kabupaten Pekalongan. Video pengendara terjatuh dan kendaraan rusak beredar luas, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
Penanganan Darurat oleh Balai Pengelolaan Jalan
Balai Pengelolaan Jalan (BPJ) Wilayah Tegal, di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, kini melakukan perbaikan darurat. Metode yang digunakan adalah penambalan lubang dengan campuran aspal panas (CAP).
Staf Teknik BPJ Wilayah Tegal, Slamet Priyono, menjelaskan bahwa timnya bekerja hampir setiap hari saat cuaca mendukung. “Setiap kali cuaca terang dan tidak hujan, kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi lubang dengan menambal menggunakan CAP. Minimal di ruas-ruas yang banyak dikeluhkan warga,” ujar Slamet pada Selasa (3/2/2026).
Penanganan jalan berlubang dilakukan secara bertahap karena kerusakan tersebar di beberapa ruas utama, seperti Wiradesa-Kajen, Kajen-Kalibening, Kajen-Kesesi, Kesesi-Bantarbolang, dan Pemalang-Bantarbolang. Slamet merinci, “Untuk Wiradesa-Kajen saja, setiap hari bisa menghabiskan 10 sampai 15 ton aspal. Pemalang-Bantarbolang sekitar 10 ton, dan Kajen-Kalibening hari ini 5 ton.”
Dari total panjang ruas Wiradesa-Kajen yang mencapai sekitar 14 kilometer, BPJ fokus menangani sekitar 5 kilometer titik kerusakan paling parah. “Kami upayakan sebelum Hari Raya nanti kondisinya sudah bebas lubang,” tegas Slamet.
Satlantas Polres Pekalongan Catat Korban Jiwa
Di sisi lain, Satlantas Polres Pekalongan mencatat dampak serius dari jalan berlubang tersebut. Kanit Turjawali Satlantas Polres Pekalongan, Ipda Hasyim, mengungkapkan bahwa laporan kecelakaan akibat jalan rusak terus berdatangan, baik secara langsung maupun melalui media sosial resmi Polres.
“Keluhan masyarakat banyak masuk lewat Facebook dan Instagram Polres Pekalongan. Karena itu, kami sudah berkoordinasi dengan PU Provinsi sejak jauh-jauh hari,” terang Hasyim. Kolaborasi ini diwujudkan melalui Operasi Keselamatan, di mana polisi bersama pemangku kepentingan terkait ikut terlibat langsung dalam penambalan darurat di sejumlah titik rawan, khususnya di wilayah Bojong. “Ini sudah hari kedua kami bersama-sama menambal lubang di sekitar Bojong,” jelas Hasyim.
Hasyim juga mengonfirmasi adanya korban jiwa. “Kemarin ada yang meninggal dunia. Korbannya anak anggota kepolisian. Jalan berlubang menjadi salah satu faktor pendukung kecelakaan tersebut,” ujarnya. Titik paling parah berada di Gejlik, Ketitang, dan sekitar Pasar Bojong, dengan kondisi lubang yang sangat membahayakan, terutama saat malam hari karena minim penerangan.
Kesaksian Warga: Kecelakaan Terjadi Setiap Hari
Yuda, pemilik bengkel yang berada tak jauh dari lokasi jalan rusak di Kecamatan Bojong, mengaku hampir setiap hari menyaksikan kecelakaan. “Beberapa hari kemarin saja ada sekitar empat motor jatuh. Pagi hari,” tutur Yuda.
Menurut Yuda, kecelakaan paling sering terjadi saat jam berangkat kerja, sekitar pukul 07.00 WIB, ketika lalu lintas padat dan kondisi jalan masih gelap atau mendung. “Rata-rata luka ringan, tapi tetap saja berbahaya. Kebanyakan yang jatuh itu laki-laki,” jelas Yuda.
