TEGAL – Konflik bersenjata antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang memanas sejak Sabtu (28/2) lalu, kini mulai merembet pada sektor perekonomian riil di Indonesia. Salah satu yang terdampak adalah industri sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kota Tegal, Jawa Tengah, yang mengalami pembatalan ekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika.
Puluhan Ribu Sarung Batal Dikirim, Pengusaha Rugi Besar
Pengusaha sarung asal Kota Tegal, Jamaludin Al Katiri, mengungkapkan bahwa sedikitnya dua kontainer yang berisi sekitar 50 ribu potong sarung merek Pohon Korma produksinya batal diekspor. Pengiriman yang seharusnya dilakukan pada Selasa (3/3) dan Sabtu (7/3) ini terpaksa ditunda, bahkan dibatalkan.
“Iya pengiriman sarung ke Timur Tengah sudah tertunda sejak Minggu. Ada kabar pembatalan pengiriman ke semua negara tujuan. Jadi mulai kemarin sudah tidak ada kiriman sama sekali dari Indonesia ke Afrika maupun Timur Tengah,” ujar Jamaludin kepada jurnalis di pabriknya di Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Senin (2/3).
Jamaludin, pemilik PT Asaputex Jaya, menyebut pembatalan ini menimbulkan kerugian besar bagi usahanya, terutama menjelang Lebaran 2026 yang seharusnya ada dua kali ekspor tambahan. “Imbasnya sangat besar, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ini di luar kewenangan kita. Bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia terdampak perang ini. Kami hanya bisa bersabar,” keluhnya.
Permintaan Lokal Melonjak Signifikan Jelang Lebaran
Di tengah kondisi ekspor yang lesu, Jamaludin justru mencatat adanya lonjakan permintaan pasar dalam negeri yang signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan omzet ini mulai terasa sejak awal Februari 2026, di mana produksi sarung ATBM untuk pasar lokal bisa meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Untuk ekspornya kami baru bisa memenuhi sekitar 30% dari total permintaan. Tapi untuk pasar lokal memang naik signifikan menjelang Lebaran,” jelas Jamaludin.
Ia juga mengapresiasi sejumlah perusahaan di Tegal yang memilih sarung produksi lokal sebagai hadiah bagi karyawan mereka, yang sedikit banyak membantu mengompensasi ketidakpastian global. Lonjakan penjualan juga terjadi melalui marketplace. Jika pada hari biasa penjualan berkisar 20–50 potong per hari, dalam sebulan terakhir angka pre-order mencapai lebih dari 500 potong per hari, dengan peningkatan hingga 300%.
Meskipun penjualan di marketplace memiliki margin keuntungan yang lebih tipis, Jamaludin menyebut harga sarung ATBM produksi Tegal berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per potong, tergantung motif dan kualitasnya. Ongkos produksi sendiri mencapai sekitar 50% dari harga jual.
“Khusus menjelang Lebaran, harga sarung ATBM bakal mengalami kenaikan sekitar 10–15% mengikuti tingginya permintaan pasar. Tapi biasanya naiknya pas Lebaran dan setelahnya,” papar Jamaludin, seraya menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
Di beberapa negara Afrika, sarung ATBM asal Tegal tidak hanya digunakan saat perayaan keagamaan, tetapi telah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat.
sumber gambar: gesit.id 