Di sebuah sudut sunyi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kisah pengabdian Yustina Yuniarti mengalir tanpa sorotan. Ia adalah seorang guru honorer di SDK Wukur yang telah mengabdikan diri selama lebih dari satu dekade, menghadapi tantangan ekstrem demi memastikan anak-anak di wilayah terluar negeri ini tetap mendapatkan pendidikan.
Perjalanan Penuh Risiko Demi Ilmu
Setiap hari, Yustina menempuh perjalanan yang tak mudah. Dari rumahnya, ia menumpang kendaraan warga sejauh yang memungkinkan, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh enam kilometer dengan berjalan kaki. Rute yang dilaluinya bukan jalan biasa, melainkan perbukitan terjal, jalan berbatu licin, jurang terbuka, hingga menyusuri pesisir yang rawan diterjang ombak.
“Kalau musim hujan, jalan berubah jadi lumpur. Kami sering jatuh. Kalau kemarau, debunya sampai ke mata dan dada sesak. Tapi saya harus tetap jalan,” ujar Yustina, menggambarkan beratnya medan yang harus ia taklukkan. Pilihan menggunakan sandal jepit bukan sekadar kebiasaan, melainkan strategi bertahan di jalur yang tak ramah, di mana sepatu justru akan mempersulit langkahnya.
Gaji Minim, Pengabdian Tak Terganti
Namun, perjuangan fisik itu seolah tak sebanding dengan imbalan yang ia terima. Selama ini, Yustina hanya memperoleh honor sebesar Rp150 ribu per bulan. Bahkan di awal pengabdiannya, ia hanya menerima Rp15 ribu. Honor tersebut bukan berasal dari negara, melainkan dari iuran komite sekolah, yang berarti berasal dari orang tua murid yang sebagian besar juga hidup dalam keterbatasan.
“Kadang saya merasa tidak enak menerima itu, karena orang tua murid juga susah. Tapi kalau tidak begitu, saya tidak dapat apa-apa sama sekali,” katanya lirih. Jika dihitung secara sederhana, penghasilan Yustina hanya sekitar Rp5 ribu per hari, angka yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu porsi makanan. Nilai itu setara dengan Rp833 untuk setiap kilometer perjalanan berisiko yang ia tempuh menuju sekolah.
Meski dihadapkan pada realitas pahit tersebut, Yustina tidak memilih pergi. Ia tetap bertahan, mengajar 17 murid di kelas V SDK Wukur, di ruang belajar berdinding papan dengan atap seng yang bocor saat hujan.
“Saya pernah berpikir untuk berhenti. Tapi kalau saya berhenti, anak-anak ini bagaimana? Tidak semua orang mau datang mengajar di sini,” ungkapnya, menegaskan bahwa baginya, pendidikan adalah panggilan kemanusiaan. Ia terus berdiri di depan kelas, menularkan harapan kepada anak-anak yang hidup jauh dari akses dan fasilitas.
Harapan untuk Perubahan Nyata
Dalam diam, Yustina menyimpan harapan sederhana kepada pemerintah, termasuk kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap negara benar-benar hadir, bukan sekadar dalam kebijakan di atas kertas, tetapi dalam perubahan nyata di lapangan.
“Saya tidak minta kaya. Saya hanya ingin dihargai. Setidaknya kami bisa hidup layak dan mengajar tanpa rasa takut di jalan,” ujarnya. Ia juga berharap sekolah tempatnya mengabdi dapat ditetapkan statusnya menjadi sekolah negeri agar memiliki akses terhadap anggaran pendidikan yang lebih memadai. Selain itu, kebutuhan akan rumah dinas guru menjadi sangat mendesak, agar para tenaga pendidik tidak perlu mempertaruhkan nyawa setiap hari hanya untuk mencapai ruang kelas.
Kisah Yustina mencerminkan realitas yang lebih luas. Di Kabupaten Sikka, ratusan guru masih berstatus honorer dengan penghasilan jauh di bawah standar kelayakan. Infrastruktur pendidikan pun masih banyak yang memprihatinkan, seperti ruang kelas rusak, fasilitas minim, dan akses yang sulit.
“Kadang kami merasa seperti tidak terlihat. Padahal kami juga bagian dari pendidikan Indonesia,” tutur Yustina. Di tengah segala keterbatasan itu, langkah Yustina tetap teguh. Ia terus berjalan, menembus medan berat, demi memastikan satu hal: anak-anak di pelosok tidak kehilangan hak mereka untuk belajar. Dan mungkin, justru dari jalan-jalan sunyi yang dilaluinya setiap hari, makna pendidikan yang sesungguhnya sedang dijaga tanpa panggung, tanpa sorotan, hanya dengan ketulusan yang nyaris tak bersyarat.
