BANJARMASIN, Kalsel – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) tengah mengkaji serius pembangunan sodetan sungai dan revitalisasi Folder Alabio. Langkah ini disepakati sebagai upaya strategis untuk mengatasi bencana banjir tahunan yang kerap melanda enam kabupaten di wilayah utara Kalsel, dikenal sebagai Banua Enam.
Gubernur Kalsel, Muhidin, mengemukakan rencana ini pada Kamis (12/2/2026), seusai memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Daerah di Banjarmasin. “Salah satu yang kita bahas dalam rapat bersama kepala daerah di Hulu Sungai Utara adalah pemecahan masalah bencana banjir tahunan. Kita sepakati untuk membangun atau membuat sodetan sungai dari wilayah Hulu Sungai Utara menuju Sungai Barito,” kata Muhidin.
Kabupaten Hulu Sungai Utara, yang merupakan daerah dataran rendah, menjadi titik pertemuan sungai-sungai besar seperti Sungai Tabalong, Sungai Balangan, dan Sungai Nagara. Kondisi geografis ini menjadikan wilayah tersebut langganan banjir yang seringkali berlangsung lama. Bahkan, sebagian wilayah Hulu Sungai Utara masih terendam banjir sejak akhir 2025 lalu.
Rencana Pembangunan Sodetan dan Revitalisasi Folder Alabio
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Roni Eka Saputera, menjelaskan bahwa rencana pembangunan sodetan berfungsi sebagai saluran pengalihan luapan air sungai menuju Sungai Barito. “Ini sedang dikaji. Sudah ada kesepakatan antara para kepala daerah yaitu Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Tapin bersama Provinsi untuk sharing dana,” ujar Roni.
Selain sodetan, Pemprov Kalsel juga berencana merevitalisasi Folder Alabio, sebuah peninggalan Belanda yang fungsinya sebagai pengatur tata air kini telah jauh menurun. “Jika ini terlaksana maka masalah banjir di enam kabupaten tersebut kita harapkan dapat terselesaikan. Sementara ancaman banjir di Kabupaten Banjar, Banjarmasin dan Barito Kuala kita harapkan mampu tertangani dengan pembangunan bendungan Riam Kiwa,” tambah Muhidin.
Sekretaris Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Adi Lesmana, mengakui bahwa wilayahnya yang didominasi lahan rawa memang menjadi daerah langganan banjir dengan durasi yang panjang. “Tentu saja penanganan banjir ini tidak bisa hanya Kabupaten Hulu Sungai Utara tapi harus melibatkan kabupaten-kabupaten sekitar. Dalam rapat koordinasi pengendalian banjir kemarin sudah ada kesepakatan, salah satunya dengan pembuatan sodetan sungai. Namun kami terkendala dana sehingga tengah diupayakan dukungan dari pemda sekitar, provinsi dan pusat,” jelas Adi Lesmana.
Dampak Banjir Akhir 2025
Sebagai informasi, banjir besar kembali melanda wilayah Kalsel pada akhir Desember 2025. Di beberapa lokasi, banjir bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Bencana ini diawali dengan banjir bandang di wilayah hulu Kabupaten Balangan, yang kemudian berdampak luas ke daerah hilir.
Tercatat, delapan kabupaten terdampak banjir meliputi Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, dan Tanah Laut. Diperkirakan, hampir 300 ribu jiwa warga terdampak oleh bencana alam ini.
