Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tengah menyiapkan kajian untuk menaikkan status bencana dari siaga menjadi tanggap darurat. Langkah ini diambil menyusul dampak cuaca ekstrem berupa gelombang pasang yang merusak belasan rumah nelayan di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Akhmad Muzaki, menyatakan bahwa kajian tersebut akan dilakukan pada Kamis, 22 Januari 2026. “Hari ini kami akan kaji dan pertimbangkan untuk kenaikan status bencana dari siaga ke tanggap darurat,” ujar Muzaki di Mataram.
Muzaki menjelaskan, salah satu pertimbangan utama untuk peningkatan status bencana adalah jika terjadi peningkatan eskalasi dan kebutuhan akan berbagai bantuan vital. Bantuan tersebut mencakup perbaikan perumahan, infrastruktur, serta pemenuhan kebutuhan pangan bagi korban. Selain itu, pihaknya juga akan mempertimbangkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk membantu para korban bencana.
“Untuk peningkatan status, kami tidak bisa serta merta melakukan tapi harus melakukan kajian dan pertimbangan matang. Jadi saat ini status bencana masih siaga,” tegasnya.
Dampak cuaca ekstrem yang menjadi pemicu kajian ini adalah gelombang pasang dengan ketinggian 2-3 meter yang terjadi pada Kamis dini hari. Peristiwa tersebut menyebabkan 18 rumah nelayan di Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, mengalami rusak berat. Sebanyak 25 kepala keluarga (KK) atau sekitar 100 jiwa yang menempati rumah-rumah tersebut kini telah mengungsi ke masjid terdekat dan rumah keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para pengungsi, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram segera bertindak. “Untuk membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mulai hari ini Dinas Sosial akan membuka dapur umum,” kata Akhmad Muzaki.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, membenarkan bahwa dapur umum di Kampung Bugis dipastikan dibuka mulai hari ini dan persiapan sedang dilakukan di lapangan. Rencananya, dapur umum akan menyediakan makanan siap santap bagi pengungsi dua kali sehari, yakni siang dan malam.
Layanan dapur umum ini disiapkan sementara selama tujuh hari ke depan. Namun, durasi tersebut dapat diperpanjang sesuai dengan kondisi lapangan dan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Adnan menambahkan, “Sekarang kami masih menunggu pengajuan peningkatan status tanggap darurat dari BPBD.”
