Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengakui bahwa kondisi ketahanan pangan di wilayahnya masih menghadapi berbagai tantangan signifikan. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, saat menghadiri Festival Pangan Lokal yang berlangsung di Gua Batu Cermin pada Senin (4/5).

Dalam kesempatan tersebut, Yulianus Weng memberikan apresiasi tinggi terhadap program FEAST (Flores Empowerment for Agriculture Sustainability and Transformation) yang merupakan kolaborasi antara DBS Foundation dan Humanis. “Program ini berjalan baik dan mulai dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujarnya.

Meski demikian, Yulianus Weng menekankan bahwa keberlanjutan program tersebut memerlukan dukungan jangka panjang. Pemerintah daerah berharap pendampingan yang semula direncanakan berakhir pada 2028 dapat diperpanjang hingga 2030. “Harapan kami, pendampingan ini tidak berhenti di 2028, tetapi bisa berlanjut hingga 2030,” katanya.

Saat ini, program FEAST baru menjangkau lima desa di Manggarai Barat. Pemerintah daerah mendorong agar cakupan program dapat diperluas ke seluruh 164 desa di kabupaten tersebut. Di lapangan, sebagian besar petani masih bergulat dengan berbagai kendala, seperti keterbatasan akses pasar, fluktuasi harga komoditas, serta minimnya pemanfaatan teknologi pertanian.

Project Manager Humanis, Mariana Bere Leba, menjelaskan bahwa program FEAST menargetkan lebih dari 28 ribu penerima manfaat di seluruh Flores, termasuk sekitar 8.000 petani. “Melalui pendekatan Village Champion, kami mendorong penguatan sistem pangan lokal agar lebih tangguh,” ungkap Mariana.

Festival Pangan Lokal sendiri menampilkan beragam produk hasil pertanian, demonstrasi memasak, serta pertunjukan seni budaya. Pemerintah daerah melihat kegiatan ini sebagai salah satu upaya penting untuk mempromosikan pangan lokal, meskipun tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan yang merata di Manggarai Barat masih tergolong besar.