PBB pada Jumat (29/5) mengecam keras rencana Israel untuk memperluas wilayah yang dikuasainya di Jalur Gaza hingga 70 persen. Organisasi global itu menegaskan bahwa seluruh wilayah Palestina harus menjadi milik rakyat Palestina.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan posisi tegas tersebut kepada wartawan di markas besar PBB, New York. “Seratus persen Gaza harus menjadi milik rakyat Palestina,” kata Dujarric, menekankan prinsip kedaulatan wilayah.

Dujarric juga menambahkan bahwa PBB terus menyerukan agar Israel mundur dari wilayah pendudukan di sepanjang apa yang disebut sebagai “garis kuning”. “Itulah yang ingin kami lihat, dan kami telah menyerukan Israel untuk menarik diri dari pendudukannya di sepanjang apa yang disebut garis kuning, dan itu akan terus menjadi posisi kami,” ujarnya.

Pernyataan PBB ini muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa negaranya saat ini menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza. Netanyahu bahkan mengisyaratkan rencana untuk memperluas kendali Israel hingga mencapai 70 persen, meskipun ia tidak merinci bagaimana langkah tersebut akan diimplementasikan.

Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu, militer Israel menyatakan telah menguasai 53 persen wilayah Gaza. Penguasaan ini terjadi setelah penempatan ulang pasukan ke area yang dikenal sebagai “garis kuning”. Langkah tersebut merupakan bagian dari tahap pertama rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang bertujuan mengakhiri konflik di Gaza.

Rencana Trump juga mencakup penarikan pasukan Israel lebih lanjut pada tahap kedua, yang telah dimulai sejak Januari lalu. “Garis kuning” sendiri merujuk pada zona pemisah sementara di Gaza bagian timur, yang secara teoretis membatasi wilayah di bawah kendali militer Israel dan area yang masih dapat dihuni oleh warga Palestina.

Namun, sumber-sumber Palestina melaporkan bahwa batas “garis kuning” tersebut terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir. Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, mengungkapkan kepada Anadolu bahwa Israel telah menggeser garis itu lebih jauh sekitar 8 hingga 9 persen ke dalam wilayah Gaza. Menurut Naim, pergeseran ini membuat area yang berada di bawah kendali Israel kini mencapai lebih dari 60 persen dari total wilayah Jalur Gaza.