Komika senior Panji Pragiwaksono memberikan tanggapan resmi terkait adanya sepuluh laporan polisi yang ditujukan kepadanya. Laporan-laporan tersebut muncul pasca viralnya potongan materi stand-up comedy spesialnya bertajuk “Mens Rea”.
Pernyataan ini disampaikan Panji saat berbincang dengan Denny Sumargo dalam tayangan podcast di kanal YouTube “Curhat Bang”, baru-baru ini. Dalam percakapan tersebut, Denny Sumargo menanyakan kebenaran mengenai jumlah laporan yang masuk ke pihak berwajib.
Denny menyebut angka sepuluh laporan, yang kemudian dikonfirmasi oleh Panji sebagai informasi yang ia dengar. “Sepuluh katanya, sepuluh totalnya,” ujar Denny mengutip informasi yang beredar.
Dua Isu Utama dalam Laporan
Menurut Panji, materi pelaporan tersebut mencakup dua isu utama. Pertama, tuduhan penghinaan fisik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kedua, tuduhan penistaan agama terkait materi salat yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut.
Panji mengaku terkejut dengan banyaknya laporan yang masuk. Ia merasa materi yang dibawakannya murni dalam konteks komedi dan pertunjukan seni, di mana penonton membayar tiket untuk menyaksikan lawakan, bukan ujaran kebencian.
“Kaget sih sejujurnya. Karena gue kan memantau betapa riuhnya ini. Maksud gue ini kan cuma bercandaan, ini kan komedi,” ungkap Panji.
Klarifikasi Panji soal Materi
Terkait tuduhan penghinaan fisik kepada Gibran Rakabuming Raka, Panji menjelaskan bahwa materi tersebut berkaitan dengan momen Gibran yang terlihat mengantuk. Panji berargumen bahwa menyebut seseorang “ngantuk” bukanlah penghinaan fisik, melainkan kondisi manusiawi.
“Gue tanya, lu pernah ngantuk enggak? Pak Gibran pernah ngantuk? Pernah. Yang gue omongin berarti yang lagi ngantuk. Salahnya di mana?” jelas Panji.
Sementara untuk tuduhan penistaan agama, Panji menyoroti materi tentang “salat safar” yang dipersoalkan oleh kelompok yang mengatasnamakan perwakilan organisasi keagamaan tertentu. Panji mengklarifikasi bahwa ia tidak sedang memperolok ibadah salat.
Ia menjelaskan bahwa poin utama dari materinya adalah kritik sosial agar masyarakat tidak memilih pemimpin hanya berdasarkan kesalehan ritual yang dipertontonkan di depan umum, melainkan melihat rekam jejak dan kapabilitasnya secara menyeluruh.
“Gue enggak bercandain salat. Setup-nya adalah jangan milih orang berdasarkan salatnya doang. Punchline-nya itu bagian patahnya, bagian lucunya,” terang Panji.
Dampak dan Sikap Panji
Dampak dari laporan-laporan ini tidak hanya dirasakan oleh Panji, tetapi juga rekan sesama komika. Panji mengungkapkan bahwa komika pembuka (opener) dalam turnya, Dani B, turut dipanggil kepolisian sebagai saksi untuk dimintai keterangan.
Panji menceritakan momen unik saat Dani B diperiksa. Menurut Panji, setelah selesai memberikan keterangan formal, polisi justru meminta Dani B untuk melawak atau melakukan roasting di tempat pemeriksaan.
“Pulang BAP dicolek sama polisi, ‘di-roasting dong, setup dong, zigzag-nya mana angka delapannya mana’,” cerita Panji.
Meski menghadapi ancaman hukum, Panji menyatakan bahwa ia selalu terbuka untuk berdialog. Ia menyayangkan langkah pelaporan pidana yang diambil tanpa adanya upaya tabayun atau klarifikasi terlebih dahulu kepadanya.
Hingga saat ini, Panji memastikan belum ada ancaman fisik yang diterima secara langsung, berbeda dengan ancaman verbal yang marak di media sosial. Panji tetap melanjutkan aktivitasnya dan menyerahkan proses hukum kepada pihak yang berwenang.
Materi “Mens Rea” sendiri saat ini masih dapat diakses melalui layanan streaming Netflix. Panji menegaskan bahwa judul “Mens Rea” yang berarti “niat jahat” dipilih justru untuk menunjukkan bahwa dalam pertunjukan tersebut dijamin tidak ada niat jahat, murni untuk tujuan komedi dan kritik sosial.
