Dunia kerja global tengah menghadapi pergeseran signifikan. Generasi Z kini menunjukkan kecenderungan untuk menjauhi posisi manajerial, sebuah fenomena yang berpotensi memicu krisis kepemimpinan di berbagai perusahaan, termasuk di Indonesia. Pakar manajemen dari Universitas Surabaya (Ubaya) mengingatkan akan risiko serius jika tren ini terus berlanjut.

Fenomena yang dikenal sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management ini bukan lagi sekadar perbincangan di media sosial, melainkan realitas yang mulai mengguncang struktur organisasi. Dr. Elsye Tandelilin, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya, menjelaskan bahwa bagi Gen Z, jabatan tinggi bukan lagi simbol prestasi.

Sebaliknya, mereka memandang posisi manajer sebagai beban kerja yang tidak sepadan dengan kompensasi yang diterima. Elsye menegaskan, “Jabatan manajerial bagi Gen Z justru dianggap beban yang timpang dengan imbalannya.”

Jika tren ini dibiarkan, perusahaan akan menanggung risiko besar baik dalam jangka pendek maupun panjang. Elsye memprediksi akan terjadi kekosongan kepemimpinan serta lonjakan angka pengunduran diri (turnover) pada level manajer menengah.

Kondisi ini bahkan bisa memicu krisis suksesi di level eksekutif. Secara finansial, kas perusahaan berpotensi terkuras untuk biaya rekrutmen eksternal dan pelatihan ulang demi menambal lubang yang ditinggalkan talenta muda.

Lebih lanjut, Elsye menambahkan, “Inovasi organisasi bisa merosot karena tidak ada ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis pimpinan dengan eksekusi teknis di lapangan.” Efek dominonya juga merembet ke lingkungan kerja, di mana manajer senior terpaksa memikul beban ganda yang berujung pada kelelahan mental atau burnout. Keberlangsungan perusahaan berada dalam pertaruhan besar jika fondasi manajerial ini rapuh.

Menanggapi sikap apatis Gen Z terhadap promosi jabatan, Elsye menyarankan perusahaan mulai mengadopsi pendekatan Individual Contributor (IC). Skema ini memungkinkan karyawan mendapatkan apresiasi yang setara tanpa harus dibebani tugas struktural.

Kepala Laboratorium Manajemen SDM Ubaya tersebut menegaskan, “Jangan paksa karyawan kompeten naik jabatan hanya supaya mereka bisa dapat gaji lebih tinggi. Sebaiknya, terapkan sistem kompensasi berdasarkan kinerja dan kontribusi nyata.”

Selain itu, mengingat Gen Z sangat alergi dengan urusan administratif yang berbelit, otomatisasi teknologi menjadi harga mati untuk menyederhanakan alur kerja mereka. Transformasi di level pimpinan puncak juga mutlak diperlukan.

Elsye menyarankan para petinggi perusahaan untuk mengubah gaya kepemimpinan dari sosok pengawas menjadi fasilitator yang penuh empati. Pemimpin yang terbuka dianggap lebih mampu memancing kreativitas dan inovasi karyawan muda.

Ia memungkasi, “Bangun komunikasi dua arah. Gen Z tidak mau sekadar diperintah, mereka ingin didengar. Motivasi mereka akan melonjak saat merasa pendapatnya dianggap relevan oleh pimpinan.”