Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah dan komunitas Hannah Asa Indonesia semakin mengintensifkan kolaborasi mereka dalam upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda di wilayah tersebut. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan kecerdasan finansial di tengah dinamika ekonomi.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, menegaskan pentingnya inisiatif ini. “Anak muda harus memiliki kecerdasan finansial dan mulai membangun kebiasaan baik dari hal-hal kecil dalam mengelola keuangan,” ujar Bonny di Palu, Selasa (17/3/2026).

Bonny menjelaskan, kolaborasi ini bertujuan untuk menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, baik pelaku usaha maupun generasi muda, agar memiliki pemahaman finansial yang lebih baik. Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi atas peran aktif komunitas edukasi keuangan Hannah Asa Indonesia yang konsisten mengedukasi masyarakat, khususnya para generasi muda di Sulawesi Tengah.

Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah penyelenggaraan Bootcamp Literasi Keuangan Batch 60. Acara ini berhasil menarik partisipasi lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan di sejumlah kampus di Kota Palu, serta perwakilan komunitas anak muda.

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan bahwa literasi keuangan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan esensial bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berkembang. “Kami ingin literasi keuangan menjadi gerakan bersama. Dengan berbagai kegiatan edukasi yang telah kami lakukan, kami terus berupaya mengedukasi masyarakat dan generasi muda, khususnya di Sulawesi Tengah,” kata Mardiyah.

Ia menambahkan, pada tahun 2026 ini, pihaknya akan semakin memfokuskan upaya untuk memperluas gerakan literasi keuangan di daerah, khususnya di provinsi Sulawesi Tengah. Komitmen ini dibuktikan dengan capaian sepanjang Januari hingga Maret 2026, di mana Hannah Asa Indonesia telah menyelenggarakan 46 kegiatan edukasi literasi keuangan.

Kegiatan tersebut melibatkan total 3.231 peserta melalui berbagai metode pembelajaran, baik secara luring maupun daring. Mardiyah berharap, melalui inisiatif ini, semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa masa depan finansial mereka sangat ditentukan oleh kebiasaan yang dibangun sejak dini. “Kami ingin semakin banyak anak muda sadar bahwa masa depan finansial mereka ditentukan oleh kebiasaan yang mereka bangun hari ini,” pungkasnya.