Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah mencatat kinerja sektor keuangan di provinsi tersebut sepanjang tahun 2025 menunjukkan stabilitas dengan pertumbuhan yang positif. Data ini dirilis oleh Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, di Palu pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Bonny Hardi Putra menjelaskan bahwa hingga 31 Desember 2025, Industri Jasa Keuangan (IJK) di Sulawesi Tengah tetap stabil. “Perkembangan industri perbankan, industri keuangan non-bank dan pasar modal di Sulawesi Tengah pada Desember 2025 tumbuh positif seiring dengan kegiatan edukasi dan inklusi keuangan serta pelindungan konsumen yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Bonny.

Perbankan Tumbuh Positif

Sektor perbankan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Aset perbankan tercatat tumbuh 3,35 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencapai Rp81,71 triliun pada Desember 2025. Angka ini meningkat dari Rp79,06 triliun pada Desember 2024.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 4,67 persen, dari Rp36,81 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp38,53 triliun pada Desember 2025. Sementara itu, kredit perbankan meningkat 0,69 persen, dari Rp61,05 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp61,47 triliun pada Desember 2025. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terjaga di angka 1,06 persen.

Kinerja perbankan syariah turut menunjukkan peningkatan. Nilai aset perbankan syariah tercatat Rp4,26 triliun, tumbuh 12,84 persen. Di sisi pembiayaan, posisinya mencapai Rp2,44 triliun.

Industri Keuangan Non-Bank dan Dana Pensiun Menguat

Selain perbankan, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Tengah juga mencatatkan kinerja positif. Nominal pembiayaan IKNB pada Desember 2025 mencapai Rp7,76 triliun, meningkat dari Rp7,05 triliun pada Desember 2024. Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan jumlah kontrak yang signifikan, dari 614.579 kontrak menjadi 883.444 kontrak.

Kualitas pembiayaan IKNB tetap terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) berada pada level 2,08 persen. Meskipun meningkat dari 1,82 persen pada tahun sebelumnya, angka ini masih berada dalam batas aman sesuai standar pengawasan.

Sektor dana pensiun juga menunjukkan tren positif. Jumlah investasi pada Desember 2025 tercatat Rp110,52 miliar, naik dari Rp102,53 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Total aset dana pensiun juga meningkat menjadi Rp112,04 miliar dari Rp104,61 miliar pada Desember 2024.

“Pertumbuhan ini mencerminkan pengelolaan dana pensiun yang sehat dan berkelanjutan,” tutup Bonny Hardi Putra.