Momen perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri pada tahun 2026 menghadirkan fenomena istimewa, di mana kedua hari besar tersebut berlangsung secara beriringan. Peristiwa ini menjadi cerminan nyata betapa kuatnya akar toleransi dan keberagaman yang telah lama dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.
Pakar budaya Universitas Airlangga (Unair), Listiyono Santoso, menyoroti bahwa pertemuan perayaan hari besar dua agama yang berbeda dalam waktu berdekatan bukanlah hal baru atau sesuatu yang perlu dikhawatirkan bagi bangsa ini. “Adanya perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri secara berdekatan di antara umat beragama Indonesia merupakan hal yang sudah terbiasa terjadi. Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan,” ungkap Listiyono.
Menurutnya, interaksi dan pertemuan dalam konteks kebudayaan inilah yang menjadi faktor utama mengapa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi masalah serius dalam bingkai negara Bhinneka Tunggal Ika.
Memahami Makna Toleransi Sejati
Akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur ini mengajak publik untuk kembali meresapi makna sejati dari toleransi. Berakar dari kata tolerare yang berarti sabar dan menahan diri, toleransi di era modern dimaknai sebagai pemberian ruang aman dan setara bagi individu berlatar belakang berbeda untuk merayakan keyakinannya masing-masing.
Wakil Dekan II FIB Unair tersebut menegaskan bahwa perlindungan ini bersifat absolut karena dijamin oleh konstitusi. “Maka, negara menjamin setiap masing-masing warganya untuk beribadah dengan aman, dan setiap orang tidak boleh mengganggu proses ibadah masing-masing agama tersebut,” tegasnya.
Secara sosiologis, bangsa Indonesia secara alamiah telah tumbuh dan besar dalam perbedaan, sebuah keistimewaan yang membedakan Indonesia dengan negara-negara di benua Eropa. Meskipun Listiyono tidak menampik sesekali muncul anasir-anasir yang mencoba mengganggu kerukunan, nilainya dinilai tidak cukup signifikan untuk merusak tradisi rukun yang telah mengakar ratusan tahun.
Pesan untuk Generasi Muda
Menyikapi tantangan ke depan, Listiyono menitipkan pesan krusial kepada generasi muda, khususnya Gen-Z, agar tradisi toleransi ini tidak terputus. “Generasi muda harus siap untuk hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Biasakan diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat heterogenitas agar penerimaan perbedaan terasa lebih mudah,” pungkasnya.
