Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan pentingnya sanad keilmuan dalam mempelajari agama di era modern. Pernyataan ini disampaikan Nusron saat menghadiri Haul ke-58 Guru Tua di Kompleks Alkhairaat, Kota Palu, pada Rabu, 1 April 2026.

“Sanad keilmuan ini sangat penting. Tanpa sanad, kita tidak akan sampai pada pemahaman agama yang benar seperti hari ini,” kata Nusron Wahid di hadapan puluhan ribu jemaah.

Sanad Guru Tua Tersambung hingga Rasulullah SAW

Nusron menjelaskan, sanad keilmuan yang dimiliki oleh Guru Tua, atau Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, memiliki mata rantai yang tersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Rantai keilmuan ini melalui ulama-ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ja’far Shadiq, hingga kepada Ahlul Bait.

Menurut Nusron, keberadaan Ahlul Bait memiliki peran krusial sebagai penjaga moral dan spiritual bagi suatu negeri. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengandalkan media sosial sebagai sumber belajar agama tanpa rujukan yang jelas.

“Banyak yang belajar agama dari media sosial, tanpa sanad dan tanpa guru. Ini berbahaya karena bisa menyesatkan,” ungkap mantan Ketua Umum PP GP Ansor itu.

Ia bahkan mengutip sindiran terhadap fenomena tersebut, di mana seseorang yang belajar agama hanya dari internet seperti YouTube atau mesin pencari, seringkali tidak mampu memberikan jawaban yang benar ketika diminta fatwa karena tidak memiliki rujukan kitab yang muktabar.

Sanad sebagai Jaminan Keaslian Ajaran

Dalam kesempatan tersebut, Nusron Wahid juga mengutip pandangan ulama yang menyatakan bahwa sanad merupakan bagian integral dari agama. Tanpa sanad, seseorang dapat dengan mudah menyampaikan pendapatnya sendiri tanpa dasar yang jelas dan kuat.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dalam diri Guru Tua terdapat beragam sanad, mulai dari sanad keilmuan, sanad Al-Qur’an, sanad amalan (wirid), hingga sanad pertemuan atau musafahah dengan para ulama yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

“Sanad ini ibarat emas dalam ilmu. Ia menjadi jaminan keaslian dan kebenaran ajaran yang kita terima,” tegasnya.

Nusron menyampaikan rasa terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepadanya dan berharap nilai-nilai sanad keilmuan ini akan terus dijaga oleh generasi penerus Alkhairaat.

“Ini adalah warisan besar yang harus kita jaga bersama sebagai generasi penerus,” pesannya.

Puluhan Ribu Jemaah Hadiri Haul ke-58 Guru Tua

Peringatan wafatnya pendiri Perguruan Alkhairaat, Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau Haul ke-58 Guru Tua, dipusatkan di Kompleks Perguruan Alkhairaat, Kota Palu, pada Rabu, 1 April 2026. Puluhan ribu warga Alkhairaat (Abnaulkhairaat) dari berbagai daerah di seluruh Indonesia tumpah ruah memenuhi lapangan kompleks Alkhairaat seluas satu hektar.

Bahkan, membludaknya pengunjung membuat area peringatan meluas hingga ke Jalan Sis Aljufri Kota Palu, tepat di depan Kantor Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.

Peringatan Haul ke-58 ini jatuh pada tanggal 12 Syawal atau 1 April 2026, mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Peradaban Ilmu dan Akhlak”. Sebelum puncak haul, telah dilaksanakan Festival Raudhah SIS Aljufri yang berlangsung dari tanggal 28 hingga 30 Maret 2026.