Wastra Lombok dan Bali, kain tradisional yang kaya makna, akan memukau panggung internasional melalui pameran dan peluncuran buku bertajuk Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok and Bali di Australia Selatan. Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Nuralam, menegaskan bahwa ini merupakan upaya diplomasi budaya yang berhasil menarik perhatian masyarakat Australia.

“Ini adalah diplomasi budaya yang kami lakukan. Benda budaya yang kami miliki ternyata menarik bagi masyarakat Australia,” kata Nuralam saat ditemui usai berdialog dengan Ketua Dekranasda NTB di Mataram, Kamis (26/03/2026).

Pameran wastra internasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 15 Mei 2026, sementara peluncuran buku akan dilaksanakan pada Juni 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Art and Gallery South of Australia (AGSA) dan Museum NTB, bertempat di Kota Adelaide, Australia Selatan.

Menurut Nuralam, koleksi kain dari Lombok dan Bali yang dipamerkan secara bersamaan memperlihatkan keterkaitan sejarah dan budaya yang erat antara kedua wilayah tersebut. “Mereka ingin tahu dan ingin memamerkan karena mereka juga punya koleksi tentang tekstil Lombok dan Bali. Koleksi itu yang mereka tampilkan bersama dengan koleksi kami,” ujarnya.

Museum NTB memastikan akan membawa enam koleksi artefak untuk ditampilkan dalam pameran bergengsi di Australia tersebut. Sementara itu, buku setebal sekitar 500 halaman yang mengulas wastra Lombok dan Bali ini disponsori oleh kolektor asal Australia, Michael Abbott.

Buku tersebut memuat kajian mendalam mengenai corak, warna, benang, serta bahan-bahan yang digunakan masyarakat Lombok dalam menenun wastra seperti songket dan limpot umbaq. Dua pegawai Museum NTB, Bunyamin dan Salsabila Luqyana, turut terlibat langsung dalam penulisan buku internasional ini.

Tulisan Bunyamin mengulas tentang wastra dalam manuskrip lontar, sedangkan tulisan Salsabila membahas keterkaitan motif kain tenun dengan simbol-simbol pada artefak seperti batu nisan. Nuralam menjelaskan, “Motif-motif itu (manuskrip dan nisan) ternyata ada korelasi dengan motif kain. Artinya itu adalah motif-motif yang sering dipakai di masyarakat dan juga menjadi simbol-simbol yang dituangkan ke dalam wastra.”

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Sinta Agathia, mengapresiasi inisiatif penerbitan buku dan pameran internasional yang mengangkat kajian mendalam tentang budaya menenun bagi masyarakat Lombok dan Bali. Menurut Sinta, langkah ini menjadi kontribusi penting dalam meningkatkan literasi budaya NTB yang saat ini masih terbatas.

“Alhamdulillah, kami punya orang yang sangat perhatian terhadap simbol, filosofi, dan arti dari budaya NTB,” ucap Sinta. Ia berharap peluncuran buku dan pameran internasional ini dapat memperkuat literasi budaya masyarakat NTB sekaligus membuka akses informasi yang lebih luas mengenai simbol-simbol budaya daerah.

Sinta optimistis kegiatan tersebut sejalan dengan visi NTB Mendunia, sebab promosi budaya melalui wastra menjadi salah satu cara efektif untuk menarik perhatian global terhadap daerah.