Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat komitmennya terhadap transisi energi nasional dan target Net Zero Emission dengan mengadopsi penggunaan kendaraan listrik untuk operasional dinas. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi NTB sebagai pusat pariwisata hijau atau Green Tourism Hub di Indonesia.

Kebijakan ini merupakan bagian integral dari strategi pembangunan jangka panjang Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dan beralih menuju energi bersih. Sektor transportasi, yang menjadi salah satu penyumbang emisi signifikan, terus didorong untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik melalui berbagai regulasi, termasuk Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 tentang penggunaan kendaraan listrik di instansi pemerintah.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak berdiri sendiri. Dalam keterangan resminya di Mataram, Selasa (24/2/2026), Ahsanul Khalik menegaskan, “NTB adalah daerah tujuan wisata internasional. Ketika kita berbicara tentang green tourism dan keberlanjutan, pemerintah daerah juga harus menunjukkan komitmen melalui kebijakan konkret.”

Sebagai tuan rumah agenda internasional seperti MotoGP Mandalika dan destinasi wisata kelas dunia, NTB secara konsisten mengusung narasi pariwisata berkelanjutan. Transisi kendaraan dinas ke listrik dinilai selaras dengan positioning tersebut, karena memperlihatkan keseriusan daerah dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Di samping itu, langkah ini juga berkontribusi pada pembentukan ekosistem kendaraan listrik di daerah, mulai dari kesiapan infrastruktur pengisian daya hingga adaptasi penggunaan energi bersih dalam lingkungan birokrasi. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan pertumbuhan signifikan kendaraan listrik dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai wilayah Indonesia. PT PLN (Persero) juga terus memperluas jaringan pengisian daya untuk mendukung target percepatan elektrifikasi transportasi.

Bagi NTB, kebijakan kendaraan listrik bukan hanya soal efisiensi atau tata kelola aset, melainkan juga tentang citra daerah sebagai bagian dari arus global menuju ekonomi hijau. Dalam kerangka green tourism, keberlanjutan tidak hanya ditunjukkan melalui promosi destinasi alam, tetapi juga melalui kebijakan operasional yang secara nyata mengurangi jejak karbon.

Ahsanul Khalik kembali menekankan, “Kalau kita ingin dikenal sebagai destinasi wisata berkelas dunia, maka komitmen terhadap energi bersih harus terlihat nyata.”

Transisi energi memang merupakan proses jangka panjang. Namun, penggunaan kendaraan listrik di lingkup pemerintahan menjadi salah satu langkah simbolis sekaligus praktis yang menunjukkan arah pembangunan daerah. Dari parkiran kendaraan dinas hingga kawasan wisata internasional, NTB kini berada dalam satu arus yang sama: menuju transportasi yang lebih bersih, tata kelola yang lebih modern, dan kontribusi nyata terhadap target Net Zero Emission nasional.