Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memamerkan enam artefak wastra unggulan Suku Sasak dalam ajang internasional bertajuk “Two Islands, One Thread: The Textiles of Lombok and Bali”. Pameran bergengsi ini akan berlangsung di Art Gallery of South Australia (AGSA), Kota Adelaide, Australia Selatan, mulai 15 Mei hingga 11 Oktober 2026.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan bahwa koleksi yang dipilih memiliki nilai sejarah tinggi dan secara representatif mencerminkan identitas budaya masyarakat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok. “Koleksi itu mencerminkan dan representatif budaya masyarakat Lombok dalam kain,” ujar Nuralam saat ditemui di Mataram, Jumat (27/03/2026).

Koleksi Unggulan dan Makna Filosofis

Enam koleksi yang akan dipamerkan meliputi kain songket bintang remawa, kain dodot songket, kain songket seret penginang, kain tapo kemalo, serta dua lembar kain kemalik. Dari keenamnya, kain dodot songket menjadi mahakarya utama yang diperkirakan berasal dari periode pemerintahan Raja Mataram Lombok terakhir, Anak Agung Gede Ngurah Karangasem, antara tahun 1870 hingga 1894.

Kain dodot songket, yang umumnya digunakan sebagai kelengkapan upacara adat dan keagamaan, dibuat dari benang sutera dengan teknik songket. Hiasan pada kain ini menampilkan motif burung lyre bird endemik Australia, burung merak, kala, pucuk rebung, dan bunga. Nuralam menjelaskan bahwa motif-motif tersebut mengandung makna mendalam, berisi harapan agar pemakai kain mendapatkan kebahagiaan dan perlindungan.

Wastra Lombok tidak hanya sekadar produk tekstil, melainkan sarat akan nilai filosofis yang mengakar kuat dalam kepercayaan penduduk setempat. Kain kemalik, misalnya, digunakan sebagai simbol tolak bala. Sementara itu, motif pada songket seret penginang mengandung makna kebersamaan dan kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. “Ada simbol yang memiliki makna menjadi bagian hari keseharian masyarakat dalam upacara adat maupun agama,” papar Nuralam.

Pameran Internasional: Jembatan Budaya Lombok-Bali

Pameran “Two Islands, One Thread: The Textiles of Lombok and Bali” yang diselenggarakan oleh AGSA ini akan mengeksplorasi kisah luar biasa tentang pertukaran artistik antara masyarakat Hindu Bali dan masyarakat Muslim Lombok selama milenium terakhir. Pameran tersebut menyoroti keragaman seni, termasuk tekstil tenun, sulaman, lukisan, dan ikat celup, yang dibuat oleh kedua masyarakat sebagai ekspresi kepercayaan spiritual, nilai-nilai komunitas, dan penghormatan kepada leluhur.

Melalui partisipasi ini, Museum NTB berharap dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke kancah global. “Ternyata kain sangat kaya simbol, tradisi, dan segala macam. Ini salah satu cara kita membawa budaya kita ke level internasional,” pungkas Nuralam.