Kabar duka menyelimuti Iran menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Ia dikabarkan meninggal dunia pada usia 86 tahun akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kepergiannya memicu tiga hari berkabung nasional di Iran, serta gelombang penghormatan dari berbagai penjuru dunia, di mana kata “Syahid” sempat menjadi tren di platform media sosial X.

Di tengah suasana duka tersebut, sebuah momen lawas yang melibatkan Ali Khamenei kembali viral dan menyentuh hati publik. Video yang dibagikan ulang oleh akun TikTok @manda27167 itu menampilkan interaksi antara Khamenei dengan seorang anak kecil yang mengajukan permintaan tak terduga.

Dalam cuplikan tersebut, anak kecil itu dengan polosnya mendekati Khamenei dan berujar, “Agha, doakan aku jadi syahid.” Istilah “Agha” sendiri merupakan panggilan hormat dalam bahasa Persia yang berarti ‘Tuan’, lazim digunakan untuk menyebut sosok pemimpin atau yang dihormati.

Mendengar permintaan tersebut, Khamenei sempat terkekeh seraya bertanya, “Kau? Syahid?” Namun, alih-alih langsung mengabulkan, ia justru memberikan nasihat panjang yang kini banyak diartikan sebagai pesan mendalam tentang pengabdian dan makna kehidupan.

Ia menasihati anak itu untuk tumbuh dewasa dan menjadi pribadi yang kuat. “Nak, tumbuhlah dulu dengan baik. Insha Allah tumbuh besar, tubuhmu kuat, hatimu luas,” ujarnya.

Khamenei melanjutkan dengan menekankan pentingnya pendidikan dan kontribusi bagi umat. “Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Carilah ilmu yang bermanfaat. Dan InshaAllah jadilah cahaya bagi umat ini,” tuturnya.

Pesan yang paling banyak dikutip ulang oleh warganet adalah penutup nasihatnya. “Hiduplah panjang umur 80 atau 90 tahun. Baru setelah itu, wafatlah sebagai syahid,” pungkas Khamenei, seolah menegaskan bahwa mati syahid bukan hanya soal gugur di medan perang, tetapi juga tentang menjalani hidup yang penuh manfaat dan pengabdian.

Ali Khamenei sendiri lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran, dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Pendidikan agamanya dimulai sejak usia dini, termasuk belajar Alquran dan menekuni studi Islam di berbagai lembaga terkemuka.

Ia melanjutkan pendidikan lanjutan (darse kharij) di bawah bimbingan ulama besar seperti Ayatollah Agung Milani. Perjalanannya menuntut ilmu membawanya ke Najaf, Irak, pada tahun 1957, sebelum kembali ke Iran dan belajar di Qom hingga 1964. Setelah itu, ia kembali ke Mashhad untuk merawat ayahnya yang mengalami gangguan penglihatan.

sumber gambar: Tiktok Ceritabekasi