Puncak arus mudik Lebaran 2026 di jalur Nasional yang menghubungkan Banda Aceh, Provinsi Aceh, dengan Medan, Sumatra Utara, terpantau mencapai puncaknya pada Rabu, 18 Maret 2026. Puluhan ribu kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, memadati jalan lintas provinsi tersebut dari kedua arah, menciptakan suasana padat meriah jelang Idulfitri 1447 H.

Arus lalu lintas dari arah Banda Aceh didominasi oleh kelompok mahasiswa dari berbagai universitas besar di Aceh, seperti Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry, dan Poltekkes. Selain itu, para perantau, dosen, PNS, dan karyawan swasta juga turut menyemarakkan gelombang mudik tahun ini. Para pemudik ini sebagian besar menuju berbagai pelosok di wilayah berjuluk Serambi Mekkah, sementara sebagian lainnya melakukan perjalanan jauh menuju Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Bengkulu, Palembang, Lampung, hingga ke Pulau Jawa.

Kepadatan luar biasa ini sudah terasa sejak Rabu dini hari menjelang waktu sahur. Deru suara knalpot kendaraan memecah kesunyian malam, menciptakan suasana ramai laksana siang hari. Ribuan pemudik motor terlihat bergerak berkelompok antara 5 hingga 15 kendaraan untuk menembus dinginnya malam.

“Meskipun melelahkan, ternyata perjalanannya sangat asyik. Untuk menghilangkan penat, saya berhenti di dataran tinggi Saree. Di sana udaranya sejuk dan bisa belanja oleh-oleh seperti alpukat, bengkuang, hingga tapai ubi,” ujar Farida, mahasiswi USK yang mudik ke Kabupaten Pidie, berbagi pengalamannya.

Kepadatan paling krusial terjadi di ruas Banda Aceh hingga Indrapuri, Aceh Besar. Di titik ini, kendaraan roda empat mulai terbagi masuk ke Jalan Tol Sibanceh (Sigli-Banda Aceh) ruas Indrapuri-Padang Tiji. Penggunaan tol ini sedikit memberikan ruang bagi pemudik sepeda motor di jalur nasional sebelum nantinya kendaraan kembali menyatu di pintu keluar tol Padang Tiji.

Daftar Lokasi Istirahat Ramah Pemudik

Untuk kenyamanan pemudik, beberapa titik istirahat (rest area) tersedia di jalur Nasional Banda Aceh-Medan:

  • Kabupaten Aceh Besar: Masjid Saree dan Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan.
  • Kabupaten Pidie: Masjid Padang Tiji, Masjid Al-Falah Sigli, SPBU Pulo Pisang, Masjid Taqwa Lampoih Saka, SPBU Beureunuen, dan Masjid Blang Malu.
  • Pidie Jaya: SPBU Ulee Gle.
  • Aceh Utara: Masjid Haji Hanafiah Landeng dan Masjid Lhok Sukon.

Magnet Tradisi Meugang di Idulfitri 1447 H

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK), M. Adli Abdullah, mengungkapkan bahwa ledakan arus mudik Lebaran 2026 ini berkaitan erat dengan tradisi Hari Meugang. Tradisi konsumsi lauk daging ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret, dan Jumat, 20 Maret, sehari sebelum Idulfitri 1447 H.

Meugang merupakan momen kebahagiaan dan saling berbagi yang sudah berlangsung sejak sekitar abad ke-13 Masehi. Bagi masyarakat Aceh, pulang ke kampung halaman untuk menikmati daging Meugang adalah sebuah keharusan kultural.

“Tradisi Aceh mengajarkan bahwa satu kilo daging saat Meugang lebih bermakna daripada seekor kerbau di hari lain. Makan sesuap nasi berlauk daging masakan ibu di hari Meugang lebih berarti dari makan sekilo daging di perantauan. Ini adalah wujud bakti anak kepada orang tua dan simbol kepedulian sosial antara si kaya dan si miskin,” jelas Adli Abdullah, menekankan nilai filosofis tradisi tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas masih terpantau padat merayap. Para pemudik diimbau untuk tetap waspada, terutama saat berkendara di malam hari dan ketika melintasi jalur yang bercampur dengan kendaraan besar. (H-3)