Menjelang bulan suci Ramadhan, sebagian besar umat Muslim kerap disibukkan dengan persiapan fisik dan logistik. Namun, di tengah hiruk pikuk tersebut, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, mengajak umat untuk menilik kembali esensi ibadah puasa sebagai sebuah perjalanan hati yang mendalam.

Melalui esai reflektifnya yang bertajuk “Ramadhan: Back to Qur’an”, Ulul Albab menyerukan umat Muslim untuk menepi sejenak dan merenungi Surat Al-Hadid ayat 1–6. Ayat-ayat tersebut dianggap sebagai fondasi krusial untuk memahami siapa Rabb yang menjadi tujuan utama selama sebulan penuh beribadah.

“Ramadhan adalah perjalanan untuk kembali mengenal Allah. Sebelum kita sibuk memperbanyak amalan, kita perlu memperdalam ma’rifat atau mengenal Allah dengan kesadaran yang lebih utuh,” ungkap Ulul Albab pada Rabu (18/2/2026).

Menyelaraskan Diri dengan Tasbih Alam Semesta

Dalam renungannya, Ulul Albab menyoroti bagaimana Surat Al-Hadid secara gamblang menggambarkan seluruh langit dan bumi yang bertasbih kepada Allah. Hal ini menjadi pengingat bahwa alam semesta telah lebih dahulu tunduk dalam kepasrahan sebelum manusia memulai ibadahnya.

Menurut Ulul Albab, puasa tahun ini harus menjadi momentum bagi manusia untuk menyelaraskan diri dengan harmoni semesta tersebut. Pemahaman bahwa Allah adalah “Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dhohir dan Yang Bathin” harus menjadi dasar ketenangan jiwa dalam menghadapi kegelisahan duniawi.

“Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir pada-Nya, maka kegelisahan dunia perlahan menemukan tempatnya,” tambahnya.

Membangun Hubungan “Romantis” dengan Sang Pencipta

Salah satu pesan kuat yang ditekankan oleh Ketua ICMI Jatim ini adalah ajakan untuk menjadikan hubungan dengan Allah sebagai hubungan yang “romantis”. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana hati merasa sangat dekat, selalu diawasi, sekaligus dicintai oleh-Nya.

Ia berpendapat bahwa yang paling perlu dirapikan menjelang Ramadhan bukanlah sekadar jadwal kegiatan harian, melainkan kejujuran hati. “Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Maka, pertanyaannya adalah: untuk siapa sebenarnya semua ibadah ini kita lakukan?” tutur Ulul Albab secara retoris.

Ulul Albab menutup pesannya dengan harapan agar Ramadhan kali ini tidak hanya menjadi pergantian waktu atau rutinitas tahunan, melainkan menjadi momentum perjumpaan cinta antara hamba dan Tuhannya. Mengakhiri refleksinya, ia juga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh masyarakat untuk menyambut bulan suci dengan hati yang jernih.