Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kota Bandung, Jawa Barat. Langkah ini dinilai sebagai solusi paling logis dan cepat untuk mengatasi timbulan sampah yang kian dramatis di wilayah tersebut.

Dalam peninjauan ke Kota Bandung pada Sabtu (28/2/2026), Menteri Hanif menegaskan, “Saya mendukung penuh PSEL untuk khusus Kota Bandung, karena sudah dramatis dan memang itu jalan paling logis, yang paling cepat untuk menangani sampah di tengah-tengah upaya kita membangun budaya.”

Ia menjelaskan, upaya membangun budaya masyarakat yang sadar pentingnya memilah dan mengurangi sampah membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sementara itu, Kota Bandung setiap harinya menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah yang mayoritas akan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) jika tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, menurut Hanif, pembangunan waste to energy (WtE) atau PSEL di Kota Bandung harus segera direalisasikan. “Saya setuju dan saya sudah sampaikan ke Pak Menko (Pangan) pada rapat dan Pak Menko setuju. Saya hari ini hanya survei saja nanti tim teknis akan mendalami bagaimana kecocokan itu,” ujarnya.

Pembangunan PSEL di Bandung juga menjadi krusial mengingat jarak tempuh dari Kota Bandung ke Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka. TPPAS tersebut ditargetkan beroperasi pada 2028 dengan kapasitas menghasilkan listrik sebesar 40 megawatt.

Jarak ini menjadi permasalahan tersendiri dalam proses pengangkutan sampah. “Sehingga saya pikir terobosan dari Kota Bandung, kami apresiasi dengan catatan ini menggunakan dana yang besar kita perlu sangat hati-hati, karena kemudian hari kita harus bertanggung jawab terhadap dana yang kita keluarkan untuk waste to energy,” kata Hanif.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sendiri memiliki peran dalam tahapan pra-pembangunan PSEL, termasuk memastikan terpenuhinya syarat-syarat teknis seperti ketersediaan timbulan sampah yang cukup. Proses selanjutnya, termasuk penentuan pemenang tender proyek, akan berada di tangan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Sebelumnya, Direktur Investasi PT Danantara Investment Management Fadli Rahman menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengumumkan perusahaan pemenang tender proyek PSEL tahap pertama. Proyek ini mencakup empat kota, yakni Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta.

Fadli menjelaskan pada Kamis (26/2/2026), “Sebanyak 24 perusahaan internasional dari China, Prancis, Jepang, telah mengikuti seleksi dan mengikuti tender proyek WtE. Perusahaan internasional itu adalah 20 perusahaan dari China, 3 dari Jepang, dan satu dari Prancis.”