Teheran, Senin (6/4/2026) – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menyerang fasilitas energi Iran merupakan “pengakuan kejahatan perang.” Pernyataan tegas ini disampaikan Araghchi menyusul percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Minggu (5/4).
Kementerian Luar Negeri Iran melalui saluran Telegramnya menyebut bahwa Araghchi secara eksplisit menyinggung ancaman AS tersebut sebagai “pengakuan yang jelas atas tindakan kejahatan perang.”
Araghchi mendesak Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk segera mengutuk serangan AS terhadap fasilitas Iran. Ia menekankan bahwa Washington telah menargetkan infrastruktur industri, energi, pendidikan, medis, dan nuklir Iran sejak awal serangan militer ke negara tersebut.
Konflik antara AS dan Israel dengan Iran telah memanas sejak 28 Februari, menyebabkan lebih dari 1.300 korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, sebagai bentuk pertahanan diri.
Iran juga telah membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz. Ketegangan ini terjadi di tengah insiden terbaru pada Minggu (5/4), di mana sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran menghantam bangunan tempat tinggal di Haifa, Israel utara. Serangan tersebut mengakibatkan empat orang hilang dan empat lainnya terluka.
