Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendesak perguruan tinggi di Indonesia untuk membentuk konsorsium riset intervensi literasi dan numerasi. Langkah ini dinilai krusial untuk mengatasi persoalan literasi dan numerasi yang masih menjadi tantangan serius di Tanah Air.
Dorongan tersebut muncul setelah rilis Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Data PISA 2022 menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca dan matematika.
Wamendiktisaintek Fauzan menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih mendalam dalam proses pembelajaran. “Kadang anak hadir secara fisik di sekolah, tetapi tidak benar-benar hadir secara psikologis dalam proses pembelajaran. Mereka datang membawa tas dan buku, tetapi tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu, kami berharap perguruan tinggi dapat membentuk konsorsium untuk menghadirkan program-program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” kata Fauzan melalui keterangan resminya di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons tantangan ini melalui kolaborasi riset dan intervensi pendidikan yang berbasis data. Melalui konsorsium, perguruan tinggi diharapkan dapat bersinergi dalam mengembangkan model pembelajaran serta intervensi literasi dan numerasi yang dapat diterapkan di berbagai wilayah.
“Dengan adanya konsorsium perguruan tinggi, perguruan tinggi diharapkan dapat saling bekerja sama mengembangkan program yang berdampak bagi masyarakat,” imbuh Fauzan.
Upaya ini juga selaras dengan prioritas nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fokus utama. Pemerintah menargetkan pada tahun 2029, tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam akses pendidikan dasar, termasuk dalam penguasaan literasi dan numerasi sebagai fondasi kualitas SDM.
Di lingkup pendidikan tinggi, kebijakan ini diperkuat melalui program “Diktisaintek Berdampak”. Program tersebut mendorong perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada riset dan publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan solusi konkret bagi permasalahan masyarakat. Dengan demikian, hasil riset diharapkan dapat langsung diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia.
