Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengeklaim bahwa perdamaian antara Lebanon dan Israel “dapat segera tercapai”. Rubio menyebut tidak ada perselisihan mendasar antara kedua pemerintah, meskipun mengakui prosesnya tidak akan mudah.
Rubio: Tidak Ada Masalah Antarpemerintah
Dalam pengarahan pers di Washington DC pada Selasa, 5 Mei 2026, Rubio menegaskan pandangannya mengenai hubungan kedua negara. “Tidak ada masalah antara Pemerintah Lebanon dan Pemerintah Israel. Israel tidak mengeklaim ada wilayah di Lebanon yang menjadi milik mereka,” ujar Rubio.
Ia melanjutkan, “Saya pikir kesepakatan damai antara Lebanon dan Israel segera dapat dicapai dan seharusnya bisa terwujud.” Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya AS untuk memediasi perdamaian di kawasan tersebut.
Komitmen AS dan Tantangan Hizbullah
Rubio menekankan komitmen Washington terhadap proses penyelesaian konflik. Namun, ia juga memperingatkan bahwa upaya tersebut akan menghadapi tantangan signifikan. “Kami sangat berkomitmen pada proses ini. Ini tidak akan mudah… persoalan ini sudah berlangsung sangat lama,” katanya.
Pemerintah AS, lanjut Rubio, akan berupaya maksimal untuk memastikan dialog antara Lebanon dan Israel terus berlanjut. “Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan kedua pihak terus berbicara sehingga kemajuan menuju semacam gencatan senjata permanen dapat dicapai dan tidak terus-menerus dihambat oleh Hizbullah,” jelasnya.
Konteks Konflik Berlanjut
Sebelumnya, pada 16 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Pemimpin Otoritas Israel Benjamin Netanyahu telah menyepakati gencatan senjata awal selama 10 hari, yang kemudian diperpanjang menjadi tiga pekan.
Meskipun ada kesepakatan tersebut, laporan menyebutkan bahwa Israel masih terus melancarkan serangan udara dan artileri hampir setiap hari ke Lebanon selatan. Sebagai respons, Hizbullah juga membalas dengan serangan terhadap pasukan Israel di kawasan perbatasan kedua negara.
