Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyerahkan bantuan hewan kurban berupa satu ekor sapi jenis Limosin berbobot 1,112 ton kepada Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, pada Senin, 25 Mei 2026. Penyerahan ini dilakukan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Dalam kunjungannya, pria yang akrab disapa Zulhas tersebut menekankan pentingnya momentum Idul Adha sebagai pijakan untuk memperkuat ketakwaan dan merefleksikan esensi pengorbanan. “Momen Idul Adha ini jadi pengingat dan panggilan buat kita. Mari berkorban, bukan cuma berbagi harta, tapi juga sebagai wujud kita mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Zulhas di hadapan awak media.

Sinergi Pemerintah dan Lembaga Pendidikan Islam

Menanggapi kunjungan tersebut, Ketua Yayasan Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo, KH Aria Muhammad Ali, menyatakan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, pesantren memiliki peran krusial dalam pembentukan karakter generasi masa depan.

KH Aria juga menjelaskan bahwa Ponpes Bumi Shalawat saat ini tengah melakukan ekspansi infrastruktur. Total aset tanah pesantren mencapai 25 hektar, terbagi menjadi 12 hektar kawasan utama, 7 hektar di wilayah utara, 2 hektar lahan tambahan, dan 3 hektar tanah lama. “Pembebasan tanah masih terus diupayakan dan pembangunan dipercepat agar target pengembangan pesantren bisa tercapai,” kata KH Aria.

Tantangan Logistik Penyaluran Hewan Kurban

Pada Idul Adha tahun ini, pihak yayasan memproyeksikan akan mengelola sekitar 35 hingga 40 ekor sapi serta 120 hingga 130 ekor kambing. Hewan-hewan kurban ini berasal dari yayasan, wali santri, dan instansi pemerintah.

Meski demikian, KH Aria menggarisbawahi tantangan logistik terkait pola penyaluran bantuan dari pemerintah pusat yang kerap mendadak. Ia mencontohkan bantuan dari Presiden yang biasanya disalurkan melalui Direktur Agrinas, Agus Sutomo. “Konfirmasinya sering mendadak, dua sampai tiga hari sebelum hari H, bahkan kadang sehari sebelumnya. Kondisi tersebut cukup menyulitkan karena pengelolaan hewan kurban dalam jumlah besar membutuhkan persiapan matang,” jelas KH Aria.

Dengan kapasitas pemotongan maksimal 13 hingga 15 ekor sapi per hari, pihak pesantren mengonfirmasi bahwa proses penyembelihan akan memakan waktu dua hingga tiga hari. Seluruh daging kurban nantinya akan didistribusikan secara bertahap kepada para guru, santri, serta warga di tiga hingga empat kampung di sekitar wilayah Lebo, Sidoarjo.